MAKALAH
KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR DALAM AGAMA, FILSAFAT, dan AGAMA
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI
MATA KULIAH IAD IBD ISD
Dosen Pengampu :
MUNDIRO LAILATUL
MUAWARAH, M. Hum
Disusun Oleh :
Qurotul Ainun nafisah
Saiful, dan
Saiful Rijal
Prodi: Pendidikan Agama
Islam
SEKOLAH TINGGI ILMU
TARBIYAH “AL-IBROHIMY”
GALIS BANGKALAN
2018
BAB I
PEBDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Dilihat dari segi kebudayaan, pembangunan tidak lain adalah usaha
sadar untuk menciptakan kondisi hidup manusia yang lebih baik. Menciptakan
lingkungan hidup yang lebih serasi. Menciptakan kemudahan atau fasilitas agar
kehidupan itu lebih nikmat. Pembangunan adalah suatu intervensi manusia
terhadap alam lingkungannya, baik llingkungan alam fisik, maupun lingkungan
social budaya[1].
Diakui secara umum bahwa
kebudayaan merupakan unsur penting dalam proses pembangunan suatu bangsa.
Lebih-ebih jika bangsa itu sedang membentuk watak dan kepribadiannya yang lebih
serasi dengan tantangan zammannya[2].
Untuk itulah Mari kita
belajar bersama-sama tentang masalah keudayaan ini untuk bersama-sama pula
membangun bangsa menjadi lebih maju daripada generasi-generasi sebelumnya.
2. PENGERTIAN ILMU BUDAYA DASAR
Ilmu
Budaya Dasar (IBD) adalah suatu ilmu yang di berikan sebagai pelengkap
pembentukan sarjana paripurna, yang mampu memecahkan persoalan yang timbul
dalam lingkungan masyarakat yang merupakan unsur penting dalam proses
pembangunan suatu bangsa[3].
Secara sederhana IBD adalah
pengetahuan yang di harapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian
umum tentang konsep-konsep yang di kembangkan untuk mengkaji masalah-masalah
dan kebudayaan[4].
IBD
merupakan suatu ilmu yang diberikan sebagai pelengkap pembentukan sarjana
paripurna,yang mampu memecahkan persoalan yang timbul dalam lingkungan
masyarakat yang merupakan unsur penting dalam proses pembangunan suatu bangsa.[5]
Dari dua paragraf diatas dapat kita
pahami bahwa IBD adalah ilmu yang apabila kita pelajari maka kita akan dapat
mengetahui masalah apa yang sedang terjadi dalam masyarakt beserta solusinya.
3.
RUMUSAN MASALAH
a.
Konsepsi
IBD dalam Agama
b.
Konsepsi
IBD dalam Filsafat
c.
Konsepsi
IBD dalam Kehidupan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam Agama
Salah
satu syarat dalam kehidupan manusia yang teramat penting ialah keyakinan,sebagian
orang dianggap menjelma sebagai agama.agama bertujuan sebagai pendamai rohani
dan kesejahteraan jasmani.yaitu percaya dengan adanya Tuhan hyang maha
Esa,yangg menciptakan dan memelihara semua yang ada di dalam dunia ini.
Orang
yang percaya akaan adanya Tuhan akan
selalu merasa dilindungi oleh tuhan dalam semua suasana,keadaan yang sebagaimana mereka tidak merasa
takut.Kepercayaan seseorang kepada yang berkuasa itu bisa berkembang sesuai dengan perkembangan pikiran dan
peradaban manusia itu sendiri.Kalau dahulu orang mempercayai
benda-benda,binatang-binatang,barang-barang,batu dan sebagainya yang dapat
menolongnya untuk mencapai rasa aman.[6]
1.
Pengertian Agama
Agama
dalam bahasa Indonesia mempunyai arti sama dengan “diri” dalam bahasa
arab dan smit,atau “religion”dalam bahasa inggrisnya.Menurut bahasa
agama berasal dari bahasa sanskerta yang
mempunyai arti tidak pergi,tetap ditempat ,turun temurun
Menurut
secara istilah Agama,seperti yang ditulis Anshari bahwa antara Agama,diin,religion,masing-masing
mempunyai atri etimologi sendiri-sendiri,juga mempunyai riwayat-riwayat
tersendiri,namun ketiga istilah tersebut dalam pengertian teknis terminologis
mempunyai makna yang sama,yaitu:
·
Agama,din
dan religion merupakan satu sistem credo(tata keimanan atau tata
keyakinan)atas adanya tuhan yang maha mutlak diluar diri manusia
·
Agama
juga merupakan sustu sistem ritus(tata peribadatan)kepada yang
dianggapnya maha mutlak
·
Agama
juga merupakan sistem norma(tata kaidah atau aturan)
Menurut
Durkheim Agama adalah sistem kepercayaan dan praktik yang telah dipersatukan
yang berkaitan dengan hal hal yang kudus.
Menurut
Spencer Agama merupakan kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap maha
mutlak,sedangkan menurut Dewey menyatakan bahwa agama adalah mencarian manusia
terhadap cita-cita umum dan abadi meskipun dihadapkan dengan tantangan yang
dapat mengancam jiwanya
Dengan
demikian, hingga saat ini maih belum ada definisi agama yang benar dan dapat
diterima secara universal.[7]
2.
KEHALUSAN
Kehalusan
berasal dari kata halus, yang artinya tidak
kasar(perbuatan)lembut,sopan,baik budi bahasanya,beradap.Kehalusan juga
mempunyai arti sifat-sifat yang halus,sopan,dan juga beradap.Halus bagi manusia
adalah bagaimana cara kita bersikap lembut ketika berhadapan dengan orang
lain.Lembut dalam kata-kata,lembut dalam roman muka juga lengkap dalam anggota
badan yang lainnya.
Lawannya
dari halus ialah kasar atau sikap yang emosional,sombong,kaku,atau bermusuhan.
Sikap
lembut atau kehalusan ini merupakan gambaran hati yang tulus dan menunjukkan
cinta kasih terhadap sesama.Oleh sebab itu,orang yang bersikap lembut biasanya
suka memperhatikan keperluan orang lain,juga suga menolong orang lain.Dan juga
termasuk perwujudan dari sifat-sifat ramah,sopan,sederhana dalam pergaulan
Kehalusan
dan Kekasaran dapat kita ketahui dari gerak gerik atau tingkah laku,raut
muka,dan tutur bahasanya,Dan aggota badan yang bisa melahirkan sikap kehalusan
itu adalah kaki, tangan, kepala, mulut, bibir, mata,dan bahu.
Dalam
rohaniah yang melahirkan sikap ialah kemauan,perasaan,pemikiran,rasa dan
cipta.Tiga unsur ini saling berkaitan dan mempengaruhi,dalam mewujudkan tingkah
laku,tutur bahasa,peerbuatan,sehingga kita bisa menilai kehalusan dan
kekasarannya.[8]
B.
Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam Filsafat
FILSAFAT,KEBUDYAAN DAN KEMANUSIAAN
Filsafat, bersama seni, teologi hokum dan sejarah termasuk dalam
pengelompok pengetahuan budaya atau The Humanities. (Samsoeri, 1940 : 2).
Dari sini jelaslah bahwa filsafat dalam IBD adalah sebagai
media.kongkritnya ,IBD menggunakan pengertian – pengertian yang berasal dari
fisafat untuk melatih kepekaan mahasiswa dan memperluas wawasan pemikirannya
dan mengamati suatu fenomenaataumengkaji suatu masalah kemanusiaan atau
masalah.
1.
Arti filsafat
Filsafat
terambil dari bahasa arab falsafah, berasal dari bahasa yunani philosopia. Yang
terakhir dapat di uraikan menjadi : philo berarti” cinta”, dan shopia berarti
“hikmah”atau “ kebijaksanaan”.jadi philosopia berarti “cinta hikmah” atau
“cinta kebijaksanaan”.(Hoesin , 1964 : 14 dan pudjawijatna,1965 : 1).
Terdapat
banyak sekali rumusan para ahli tentang pengertian filsafat yang berbeda satu
sama yang lain.Perbedaan dalam merumuskan pengertian ini wajar,lebih-lebih bila
di ingat bahwa filsafat melambangkan hal yang abstarak.Sedangkan untuk
pengertian kata-katayang menunjuk benda-benda yang kongkrit saja orang sukar
bersepakat.
Gazalba
(1979 : 41) merumuskan pengertian filsafat berangkat dari kata kerjanya
berfilsafat ialah mencari kebenaran dari
kebenaran untuk kebenaran ,tentang segala sesuatu yang di masalahkan dengan
berpikir secara radikal, sistematik dan universal.Apabila seseorang berpikir
demikian dalam menghadapi masalahdalam hubungannya dengan kebenaran , adalah
orang itu telah memasuki filsafat .Penuturan dan uraian yang tersusun oleh
pemikirannya it adalah filsafat.Bertolak dari kata kerjanya, dapat di rumuskan
kata bendanya :” filsafat adalah sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang
di persoalkan sebagai hasil dari berpikir secara radikal sistematik dan universal”.
Anshori
(1982 : 82)setelah mempelajari berbagai rumusan tentang filsafat , samapai
kepada kesimpulan bahwa :
a)
Filsafat
adalah “ilmu istimiwa” yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat
di jawaboleh pengetahuan biasa ,karena masalah yang termaksud berada di luar
atau di atas jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
b)
Filsafat
ialah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami ( mendalam
dan menyelami) secara radikal dan integral serta sistematik hakikat sarwa yang
ada (Tuhan, alam semesta dan manusia) serta sikap manusia termaksud sbagai
konsekukensi dari pada faham(pemahaman) –nya tersebut.
2.
Karekteristik fisafat
Dalam
definisi Gazalba di muka terdapat beberapa hal yang patut diperbicangkan disini
sehubungan karekteristik filsafat.
Pertama: Berfilsafat adalah mencari
kebenaran.Didalam mencari kebenaran , filosofi tidak bertujuan untuk mencari
pijian ,kedudukan,kemuliaan dan sejenisnya,melainkan semata matakarena ia
menghayatigerak dalam hatinya.demikian juga filosof yang berpikirmencari
kebenaran semata-mata karna menghayati masalah yang harus di cari
jawabannaya.Filosof sejati adalah pengabdi kebenaran.
Kedua: Berfilsafat adalah berpikir. Tapi berpikir tidak selalu
berflsafat.Berfikir dikatakan berfisafat apabila mengandung tiga ciri: radikal
sistematik dan universal.
a)
Radikal
artinya berakar atau mendasar, siap membongkar
tempat berpijak secara
fundamental;
b)
Sistematik
artinya logis, bergerak selangkah demi selangkah dengan penuh kesadaran dan
urutan yan bertanggung jawab dan saling
hubungan yang teratur;
c)
Universal
artinya umum dan menyeluruh,tidak picik dan tidak terbataspada bagian –bagian
tertentu.
d)
Seorang
yang berfilsafat diilustrasikan sebagai seorang yang berpijak di bumi dan
mencengadahke bintang-bintang.Dia ingin mengetahui hakikat dirinyadalam ke
semestaan galaksi.Atau seorang yang berpuncak tinggi, memandang ke ngarai dan
lembah di bawahnya.Dia ing menyimak kehadirannya dengan ke semestaan yang di
tatapnya.Seorang yang berfikir filsafat,tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari
segi pandangilmu itu sendiri.Dia ingin melihat hakikatilmu dan
konstelasipengetahuan yang lainnya.Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral dan
kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakinapakah ilmu itu membawa
kebahagiaankepada dirinya
3.
Bidang
telaah/Obyek filsafat
Pada dasarnya
filsafat mencelaah segala masalah yang mungkin dapatdi pikirkan manusia.
Molder (1966 :
12) menulis : “Tiap-tiap manusia yang mulai berpikir tentang diri sendiridan
tentang tempat- tempatny dalam dunia akan menghadapi beberapa persoalanyang
begitu penting sehingga boleh di beri namapersoalan-persoalaa pokok.Kami rasa
terutama tiga persoalanyang dapat di katakan brsifat pokok, yaitu :
a)
Adakah
allah dan siapakah allah itu?;
b)
Apa
dan siapakah manusia? Dan
c)
Apakah
hakikat dari segala realitas, apakah maknanya dan apakah intisarinya?
Dalam sejarah umat manusia kita melihat bahwa tiga prtanyaan tadi
itu sering di jawab dalam agama yang di anut oleh manusia. Tapi tidahlah jarang
ilmu fisafat berusaha untuk menjawab perseolan perseoalan pokok itu”.
Dalam definisi anshori di muka
secara eksplisit di sebutkan bidang telaah filsafat, yakni hakikat
sarwayang ada meliputi :
a)
Hakikat
tahun;
b)
Hakikat
alam semesta;
c)
Hakikat
manusia.
Para ahli membedakan obyek materia dari obyek forma. Obyek sebagai
di sebutkan di atas (sarwa yang ada) adalah merupakan obyek materia
filsafat.sedang obyek formanya adalah usaha mencariketerangan sedalam- dalamnya
tentang obyek materia tersebut.
4.
Batas dan relavitas filsafat
Dimuka
telah di mukakan bahawa fisafat adalah “ilmu istimewa” yang mencoba menjaw
masalah-masalah yang tidak dapat di jawab oleh ilmu pengetahuan biasa.Tapi
dapatkah filsafat memberi jawaban atas segala soal dan pertanayaan?
Pudjawiyanto
(1965 : 19 – 20) menjawab: “pada
prinsipnya memang dapat dan kalau belum dapat , maka terus di usahakan .Tetapi
usaha selalu denagan pikiran belaka.Maka dari itu bukanlah filsafat itu sama
dengan agama.Ada kemungkinan agam memberi pengetahuan yang lebih tinggi dari
filsafat , pengetahuan yang tercapai oleh budi biasa karena demikin tingginya
hingga hanya dapat di ketahui karena di wahyukan”.
Dalam
hubungan ini Weiss (1967 : 13) memberikan ilustrasi “makhluk manusia dengan
segala mikanismejiwanay yang rumit, dengan segala hasrat-hasratdan
ketakutan-ketakuatannaya, perasaan ke tidak pastian spekulatifnya, melihat
dirinya di hadapkan pada satu alam di mana kemurahan dan kekejaman, bahaya dan
ke tentraman, bercampur aduk dalam satu cara yang dahsyat yang teruraikan dan
dampaknya bekerja atas garis-garis yang dampaknya berbeda dari metode-metode dan struktur pikiran
manusia.Filsafat intelaktual murni atau ilmu pengetahuan eksprimental melulu
tidak pernah sanggup memecahkan konflik ini inilah justru titik dimana agama
melangkah maju”.
“Bila
mana anda Kattsoff (anshori,1982 : 106) menghatapkan jawaban-jawaban tingkat
terakhir atas perseolan-persoalan anda artinya jawaban-jawaban yang oleh semua
ahli filsafat dianggap merupakan kebenaran, maka niscaya anda akan kecewa
sekali”.
Dan
El-Bahy (1965 : 9) menampili : “berhubung dengan itu sipa saja yang mengikuti
filsafat atau tunduk pada hukum buatan manusia itu selalu akan sadar bahwa yang
dikutipnya atau ditaatinya itu adalah suatu sistem buatan manusia yang tidak
pasti menjamin dan keadilan”.
Pendapat-pendapat
diatas menegaskan batas dan relafitas filsat, yang secara singkat dapat
disimpulkan bahwa kebenaran filsafat itu sifatnya spekulatif, subyektif dan
relatif.
“segala-galanya
memang dapat ditanyakan dan bertanya itu habis-habisnya”, kata Beerling
(Ansari, 1982:113) yang selanjutnya mengingatkan bahwa “dari jaman dahulu
berbagai filsafat telah mengetahui akan bahayanya dan mereka memberi
peringatan. Sekiranya pertanyaan ini tidak dihentikan dengan suatu jawaban yang
pasti, sehingga semuanya dapat dipahamkan, maka kita akan terdampar pada suatu
putaran air”.
Pertanyaan
berikutnya: kalau terhadap suatu masalah yang asasi filsafat tidak bisa memberi
jawaban atau menjawab dengan spekulasi, dugaan, terkaan dan kiraaan, maka
kemanakah manusia harus melangkah?
Disini
manusia berada dipersimpangan jalan. Dia bisa mundur selangkah atau tetap dalam
status quo dan mejadi seorang pemikir bebas (free-thinker) dengan resiko
kegelisahan sepanjang hidup.
Atau
menjadi seorang yang maju selangkah mencoba mencari jawaban dari instansi atau
institut yang dipercayai dan diyakininya lebih tinggi dari filsafat didalam
menjawab masalah-masalah asasi manusia, yang dengan demikian dapat lebih
menentramkan jiwanya pula. Instansi atau institut tidak lain adalah agama
wahyu.
5.
Filsafat dan kebudayaan
Kebudayaan menurut mukti ali (1982: 4) adalah budidaya, tingkah
laku manusia. Tingkah laku manusia digerakkan oleh akal dan perasaannya. Yang
mendasari semua itu adalah ucapan hatinya. dan ucapan batin itu merupakan
keyakinan dan penghayatannaya terhadap sesuatu yang di anggap benar. Apa yang
di anggap itu besar atau kecil adalah agama. Dan agama sepanjang tidak di
wahyukan adalah ialah hasil perkiraan filsfat.
Gazalba (1979 :
72) mendefinisikan kebudayaan sebagai “cara berpikir dan cara merasa, yang
menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk
kesatuan sosial dalam suatu ruang dan satu waktu”. Definisi gazalba secara
implisit menengahkan jenis-jenis kebudayaan. Cara berpikir dan cara merasa
merupakan kebudayaan batiniah, sedangkan manifestasinya dalam bentuk cara
berlaku dan cara berbuat atau cara hidup adalh ke budayaan lahiriyah. Produk
cara berlaku berbuat itu yang berbentuk benda di sebut kebudayaan material.
Apabila di perbandingkan definisi kebudayaan dan definisi filsafat,
keduanya bertemu dalam hal berpikir. Kebudayaan adalah cara berpikir.
Sedangakan filsafat adalah cara berfikir secara radikal , sistematik dan
universal.berpikir demikian berujung pada setiap jiwa ( gazalba) atau ucapan
batin (mukti ali). Menifestasinya adalah sikap hidup dan pandangan hidup.
Dengan demikian jelaslah , betapa filsafat itu mengendalikan cara berfikir
kebudayaan. Di blakang setiap kebudayaan selalu kiata temukan filsafat.
Perbedaan kebudayaan dapat di kembalikan kepada perbedaan filsafat.
Kebudayaan juga di pandang sebagai tata nilai(lengeveld dalam
Gazalba,1975 : 77). Seorang individu dalam masyarakat atau masyarakat itu
sendiri berbuat sesuatu, karena sesuatu itu bernilai atu berguna bagi
kehidupannaya. Barang sebagai hasil perbuatan itu di hasratikarena itu di
perlukan.dalam demikian barang itu mengandung nilai. Jadi tingkah laku dan
hasil perbuatan dalam kebudayaan menuju kepada realisai nilai.
Kalau kebudayaan itu kita pandang sebagai tata nilai.maka timbul
pertanyaan : siapakah yang menentukan nilai? Yang pertama sudah tentu tuhan dan
kemudian manusia. Tuhan menentekan nilai melalui agama. Manusia menentekan
nilai melalui filsafat. Oleh karena itu kebudayaan berpangkal pada manusia.
Maka jelas yang menentekan kebudayan adalah filsafat.
6.
Filsafat dan masalah manusia
Yang dimaksud masalah manusia adalah mereka yang dipermasalahkan
oleh manusia. Ada masalah yang sifatnya segera (immediate problems) ialah
masalah-masalah praktis sehari-hari, yang berkenaan dengan keperluan-keperluan
pribadi yang mendesak, yang tidak seorangpun dapat mengelakkan diri dari
padanya. Dan ada masalah yang sifatnya asasi (ultimate problems) ialah bekenaan
dengan hakikat manusia itu sendiri, alam semesta dan Tuhan. Tapi agaknya,
masalah terbesar yang di hadapi manusia sepanjang masa adalah tentang dirinya
sendiri.
Manusia, seperti telah diutarakan dimuka, merupakan salah satu
obyek materia filsafat dan juga ilmu. Ada beberapa pertanyaan asasi tentang
manusia:
a)
Bagaimana
manusia itu
b)
Apa
sebabnya demikian
c)
Apa
itu sesungguhnya manusia
d)
Dari
mana awalnya
e)
Dan
dari mana akhirnya
Dua
pertanyaan pertama dijawab oleh ilmu dan tiga yang terakhir dijawab oleh
filsafat.
Pertanyaan-pertanyaan
tentang diri sendiri (manusia) itu melahirkan pertanyaan-pertanyaan tentang
alam semesta. Pertanyaan pertama yang muncul ialah: apakah (hakikat) alam
semesta ini? Dari padanya lahir pertanyaan-pertanyaan:
a)
Kapankah
alam semesta ini terjadi
b)
Bagaiman
terjadinya alam semesta ini
c)
Dari
sumber alam apa alam semesta ini memperoleh hidupnya
d)
Dan apakah
ahir yang dituju dengan gerakan ini.
Pertanyaan-pertanyaan
tentang alam semestaini membawa serangkaian pertanyaan lebih lanjut, yang pada
akhirnaya sampai kepada pertanyaan-pertanyaan tentang sang pencipta, misalnya :
a)
Apakah
ia suatu pribadi atau bukan pribadi
b)
Apbila
ia sudah pribadi, apakah hakikat dan konstitusi sang pribadi itu,
c)
Apakah
satu pribadi seperti kita secara fisik,
d)
Apakah
dia sesuatu proses kerusakan kematian, apakh itu kekal,
e)
Apakah
dia itu satu,dua,tiga ataukah lebih dari itu jumlahnya dan seterusnya.
Pertanyaan tentang
manusia , alam semesta dan tuhan itu adalah pertanyaan-pertanyaan asasi,
masalah-masalah fundamental yang di gelutioleh setiap manusia yang berfikir.
Tetapi, apakah
pertanyaan asasi itu penting untuk setiap orang ? apakah pertanyaan itu ada
hubungannya dengan problem praktis umat manusia ? apakah melayani
pertanyaan-pertanyaan semacam itu bagi manusia praktis-praktis tidak
berartimembuang-buang waktu dan energi ?
Nampaknya
, pertanyaan asasi itu hanya berarti hanya berarti bagi filsuf saja. Tapi ada
kenyataannya tidak demikian, setiap orang yang memperhatikan hidup ini dengan
serius, setiap orang yang tidak mawu kehilangan makna dari setiap amal dan
aktivitasnya, setiap orang yang tidak rela “serkup” bagi mesin kehidupan
setidak-tidaknya ketika orang merasa di dera oleh beban hidup dan rumutnya
liku-liku kehidupan, segera akan hadir di hadapannaya pertanyaan-pertanyaan
asasi tersebut.
Jawaban
seseorang terhadap suatu pertanyaan asasi, membawa konsekuensipraktis bagi yang
bersangkutan dalam menangani masalah-masalah dan mendesak yang di temuinya
dalam kehidupan sehari hari.
Seorang
yang telah sampai pada keyakinan bahawa tuhan itu ada tentu berbeda tingkah
laku sehariannaya dengan orang yang tidak mempecayai adnya Tuhan. Seorang yang
berpandangan “hidup untuk hidup” tentu lain sikap dan cara hidupnya dari yang
berpandangan “hidup untuk mati” demikian seterusnya.
Namun
secara commonsense, denagan membawakan pengertian-pengertian kepada mahasiswa,
kita dapat mewujudkan tujuan IBD yakni membantu memperluas wawasan berpikir
mahasiswa, karena filsafat senantiasa mendorong seseorng untuk :
a)
Berusaha
mengetahui apa yang telah di ketahui dan apa yang belum di ketahui;
b)
Berendah
hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahuinya dalam kesemestaan yang akan
tak terbatas ini;
c)
Mengoreksi
diri,berani melihat sejauh nana kebenaran yang dicaritelah di jangkaunya;
d)
Tidak
apatis terhadap lingkungan dan terhadapnilai yang hidup dalam masyarakat; dan
e)
Senantiasamemberikan
maknabagi setiap amal perbuatannaya[9].
C.
Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam Kehidupan
1.
Arti
Kehidupan
I Ketut Gede Yudantara menyatakan, Kehidupan merupakan anugrah dan
amanah sebagai ciptaan tuhan, Kehidupan merupakan cobaan hidup yang selalu
dirundung suatu permasalahan, Kehidupan merupakan penebusan dosa serta merupakan
suatu proses reinkarnasi[10]
(dari bahasa latin untuk ‘’lahir kembali’’ atau ‘’kelahian semula’’ merujuk
kepada kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan di lahirkan kembali dalam
bentuk lain[11]).
Paulus Wahana juga menyatakan, Kehidupan merupakan suatu fakta,
yang dengan sendirinya terkait dengan nilai[12].
Kehidupan adalah sebuah perjalanan fakta yang diberikan sang
Pencipta sebagai amanah, yang didalamnya terdapat masalah-masalah atau cobaan
yang mau tidak mau harus di jalani dengan baik,
dan kesemuanya terkait dengan nilai, dan semua itu terkhusus pada
kehidupan manusia.
2.
Karakteristik
Kehidupan (Manusia)
1)
Manusia
dan Cinta Kasih
a.
Arti
Cinta Kasih
Cinta
merupakan salah satu dari kebutuhan hidup manusia yang fundamental. Victor hago
(pujangga terkenal) menyatakan mati tanpa cinta sama halnya dengan mati penuh
dosa. Sederhananya cinta adalah sebagai paduan rasa simpati antara dua makhluk[13].
Cinta
kasih bersumber pada ungkapan perasaan yang didukung oleh unsur karsa, yang
dapat berupa tingkah laku dan pertimbangan dengan akal yang menimbulkan
tanggung jawab. Dalam cinta kasih tersimpul pula rasa kasih sayang dan
kemesraan, belas kasihan dan pengabdian. Cinta kasih yang disertai tanggung
jawab menciptakan keserasian, keseimbangan dan kedamaian antara sesama manusia,
antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan[14].
b.
Macam
Cinta Kasih
a)
Cinta
Kasih antara orang tua dan anak.
b)
Cinta
Kasih antara pria dan wanita.
c)
Cinta
kasih antara sesame manusia.
d)
Cinta
Kasih antara manusia dan Tuhan.
e)
Cinta
Kasih manusia terhadap lingkungannya.[15]
c.
Ungkapan
Cinta Kasih
Adalah ungkapan perasaan yang di
wujudkan dengan tingkah laku, seperti dengan kata-kata, tulisan, gerak atau
media lainnya. Ungkapan dengan kata-kata misalnya aku cinta padamu, ungkapan
dengan tulisan misalnya mengirim surat cinta, ungkapan dengan gerak misalnya,
salaman, pelukan, dan rangkulan, ungkapan dengan media misalnya memberi
setangkai bunga atau kado. Ungkapan ini juga dapat disampaikan dalam bentuk karya
budaya, misalnya seni suara, seni sastra, seni drama, film, dan seni lukis[16].
2)
Manusia
dan Keindahan
a.
Pengertian
keindahan
Menurut
Leo Tolstoy (Rusia), dalam bahasa Rusia terdapat istilah yang serupa dengan
keindahan yaitu ‘’krasota’’, artinya suatu yang mendatangkan rasa yang
menyenangkan bagi yang melihat dengan mata. Bangsa Rusia tidak punya pengertian
keindahan untuk music. Bagi bangsa Rusia yang indah adalah yang dapa dilihat oleh
mata[17].
Menurut
Humo (inggris), keindahan adalah suatu yang dapat mendatangkan rasa senang[18].
Menurut Sulzer, yang indah itu hanyalah yang baik, ciptaan itu belum indah.
Keindahan harus dapat memupuk perasaan moral. Jadi ciptaan amoral adalah tidak
indah, karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral[19].
Jadi
keindahan adalah segala sesuatu yang baik dan menyenangkan.
b.
Macam
keindahan atau seni
a)
Kesusastraan
senirupa seperti puisi, drama, dan prosa fiksi.
b)
Music,
seperti music rakyat, music tradisional, music kolektif, music primitive, dan
lain sebagainya.
c)
Agama
3)
Manusia
dan Penderitaan
a)
Arti
penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa
sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya
menanggung atau merasakan Sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu
dapat berbentuk lahir atau batin, keduanya. Termasuk penderitaan ialah keluh
kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan, dan lain-lain[20]
b)
Macam
penderitaan
a)
Phobia
(claustrophobia adalah rasa takut terhadap ruangan tertutup, dan agoraphobia
adalah rasa tkut pad ruangan terbuka, penderita ini dapat menjadi begitu gugup
sehingga mereka takut keluar rumah atau ketempat umum lainnya)[21].
b)
Frustasi
(menurut Dr. Kartini Kartono, frustasi merupakan suatu keadaan, dimana suatu
kebutuhan tidak dapat terpenuhi dan tujuan bisa tercapai)[22].
c)
Siksaan,
rasa sakit, dan neraka[23].
c)
Manusia
dan Keadilan
a)
Keadilan
Kong
Hu Cu , beliau bertutur tentang keadilan ini antara lain dengan mengatakan ‘’bila
anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja,
masing-masing telah melaksanakan kewajibannyamaka itulah keadilan’’. Agaknya
menyadari akan peranan masing-masing dari suatu fungsi merpakan suatu keharusan
bagi tercapainya suatu keadilan versi Kong Hu Cu ini[24].
Filisof
Aristoeles juga mencoba memberikan pandangan yang hakiki terhadap keadilan:
‘’keadilan adalah kelayakan dalam tindakan mansia (Faierner in human action)’’[25].
b)
Kejujuran
Kejujuran
berarti bahwa apa yang di katakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya dan di
tepati janjinya baik yang terucap atau belum sehingga hatinya bersih dari
perbutan yang dilarang oleh agama dan hukum[26].
c)
Kecurangan
(lawan dari kejujuran)
d)
Pemulihan
nama baik
e)
Pembalasan
f)
Macam
keadilan
·
Keadilan
legal atau keadilan moral (setiap orang menjalankan pekerjan menurut sifat
dasarnya yang paling cocok baginya).
·
Keadilan
distrbutif (hal-hal yang sama di perlakukan sama, dan hal-hal yang tidak sama
di perlakukan tdak sama).
·
Keadilan
komutatif (memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum)[27].
4)
Manusia
dan Pandangan Hidup
a)
Arti
pandangan hidup
Pandangan
hidup merupakan suatu dasar atau ladasan
untuk membimbing kehidupan jasmani danrohani.pandangan hidup ini sangat
bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau Negara. Semuaperbuatan
tingkah laku dan atura serta undang hrus merupakan pancaran dari pandangan
hidup yang telah dirumuskan[28].
b)
Klasifikasi
pandangan hidup
·
Pandangan
hidp yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang muthlak kebenarannya.
·
Pandangan
hidup yang berupa ideologi yang di sesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang
terdapat pada Negara tersebut.
·
Pandangan
hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relative kebenarannya.[29]
c)
Langkah-langkah
berpandangan hidup yang baik
-mengenal,
–mengerti, –menghayati, –meyakini, –mengabdi, dan -mengamankan[30].
d)
Cita-cita
dan pandangan hidup
Cita-cita
menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah keinginan, harapan, tujuan yang
selalu ada dalam pikiran seseorang untuk memperoleh apa yg ingin diperoleh
dimasa yang akan datang[31].
Cita-cita
tidak sama dengan pandangan hidup. Sekalipun demikian cita-cita erat sekali
kaitannya dengan pandangan hidup. Pandangan hidup merupakan bagian dari hidup
manusia yang dapat mencerminkan citra individu maupun masyarakat. Selain itu
juga mencerminkan cita-cita atau aspirasi seseorag dan sekelompok orang atau
masyarakat[32].
Cita-cita
yang baik menurut pandangan hidup islam adalah cita-cita yang terdapat
keseimbangan antara di dunia dan di akhirat. Dengan adanya keseimbangan ini
maka hubungan antara manusia dengan Alloh dan hubungan antara sesama manusia
akan sama-sama terjalin dengan lancar[33].
5)
Manusia
dan Tanggung Jawab
a)
Arti
tanggung jawab
Adalah keadaan wajib menanggung segala
sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab adalah kewajiban menanggung, memikul
jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawaban dan menanggung akibatnya[34].
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia
akan tingkahlaku atau perbuatannya. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai
perwujudan kesadaran akan kewajibannya[35].
Jadi tanggung jawab adalah suatu
perbuatan yang harus di tanggung atau diperbuat atau di selesaikan oleh seorang
pemikul tanggung jawab tersebut.
b)
Macam-macam
tanggung jawab
a)
Tanggung
jawab terhadap dirinya sendiri
b)
Tanggung
jawab terhadap keluarga
c)
Taggung
jawab terhadap masyarakat
d)
Tanggunng
jawab terhadap Tuhan yang maha Esa.[36]
6)
Manusia
dan Kegelisahan
a)
Arti
Kegelisahan
Kegelisshan
berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak tntram hatinya, selalu merasa
kwatir tidak tenang, tidak sabar, cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yng
menggambarkan sseorang todak tentram hati maupun perbuatannya, merasa kwatir,
tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan.
Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak gerik
seseorang dalam situasi tertentu. Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi
kecemasan[37].
b)
Pembagian
kegelisahan
Menurut
Sigmund Freud kecemasan dibagi menjadi tiga macam, yakni : kecemasan tentang
kenyataan/obyektif, kecemasan neuritis, dan kecemasan moril[38].
· Kecemasan obyektif, adalah suatu pengalaman perasaan sbagai akibat
pengamatan atau suatu bahaya dari luar, takut kalau ia berada dengan
benda-benda tertentu dalam keadaan tertentu.
· Kecemasan neorotis, timbul karena pengamatan tentang bahaya dari
naluriyah, seperti gugup, gagap, dan phobia.
· Kecemasan moril, disebabkan karena pribadi seseorang, seperti iri,
dengki, marah, gelisah, cinta, rasa kurang.[39]
7)
Manusia
dan Harapan
Setiap
manusia mempunyai harapan. Manusia tanpa harapan berarti manusia itu mati dalam
hidup. Orang yang akan meninggal pun mempunyai harapan, biasanya berupa
pesan-pesan kepada ahli warisnya[40].
a)
Arti
harapan
Harapan
berasal dari kata harap, artinya keinginan supaya sesuatu terjadi, sedangkan
harapan itu sendiri mempunyai makna sesuatu yang terkandung dalam hati setiap
orang yang datangnya merupakan karunia dari Tuhan, yang sifatnya terpatri dan
sukar dilukiskan. Yang mepunyai harapan atau keinginan itu hati. putus harapan
berarti putus asa[41].
b)
Kategori
harapan
Abraham
Maslow mengategorikan kebutuhan manusia menjadi lima macam, yang merupakan lima
harapan manusia, yaitu:
· Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival).
· Harapan untuk memperoleh keamanan (safety).
· Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai dan
dicintai (beloving and love).
· Harapan memperoleh status atau untuk diterima atau diakui
lingkungan.
· Harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita (self
actualization).[42]
c)
Sebab-sebab
manusia mempunyai harapan
· Dorongan kodrat (sifat alamiyah yang sudah tejelma dalam diri
manusi).
· Dorongan kebutuhan hidup
· Manifestasi harapan dalam seni (manusia dalam usha untuk memenuhi
apayang di harapkan dapat menyalurkan kebutuhan itu melalui kreasi atau hasil
karyanya).[43]
BAB III
KESIMPULAN
Suatu budaya memiliki nilai-nilai tersendiri, terutama dari agama.
Dan dari budayalah manusia jadi berguna di kalangan masyarakat yang bisa
menjadi pembeda antara orang lain.
Filsafat, bersama seni, teologi hokum dan sejarah termasuk dalam
pengelompok pengetahuan budaya atau The Humanities. (Samsoeri, 1940 : 2). Dari
sini jelaslah bahwa filsafat dalam IBD adalah sebagai media.kongkritnya ,IBD
menggunakan pengertian – pengertian yang berasal dari fisafat untuk melatih
kepekaan mahasiswa dan memperluas wawasan pemikirannya dan mengamati suatu
fenomenaataumengkaji suatu masalah kemanusiaan atau masalah.
Kehidupan adalah sebuah perjalanan fakta yang diberikan sang
Pencipta sebagai amanah, yang didalamnya terdapat masalah-masalah atau cobaan
yang mau tidak mau harus di jalani dengan baik,
dan kesemuanya terkait dengan nilai, dan semua itu terkhusus pada
kehidupan manusia, yang mana manusia tersebut memiliki karakteristik
bermacam-macam, seperti dalam cintakasih, keindahan, keadilan, penderitaan dan
lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Halil, Hermanto, IAD, ISD,
IBD dalam Perspektif Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01)
Mawardi, Hidayati Nur, IAD—ISD-IBD,
(Bandung: Pustaka Setia, cet. VI, 2000)
MUSTOPO , M. HABIB, ILMU
BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional)
Supadie Didiek Ahmad dan Sarjuni,Pengantar Studi Islam,Rajawali
pers,cet ke I,Jakarta,2011
[1] M. HABIB
MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA:
Usaha Nasional) 13
[2] Ibid
[3] Hermanto
Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif
Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01) 02
[4] M.HABIB
MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA:
Usaha Nasional) 15
[5] Hermanto
Halil,IAD ISD IBD,Pamekasan:Duta Media Publishing,2015,hlm.2.
[6] Habib
Mustopo,ILMU BUDAYA DASAR Manusia dan Budaya,Kumpulan essay,Usaha
Nasional,Surabaya,Hlm.59.
[7] Didiek
Ahmad supadie dan Sarjuni,Pengantar Studi Islam,Rajawali pers,cet ke
I,Jakarta,2011,hlm. 35-36.
[8]
Mawardi,IAD ISD IBD,CV.Pustaka Setia,Bandung,2000,hlm.165-166
[9] M.HABIB MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional) 67-75
[10]
MuhammadFarid, Arti dan Definisi Kehidupan (faridkoclak.blogspot.com/2015/04)
[11]
Reinkarnasi – Wikipedia bahasa Indonesia
[12]MuhammadFarid,
Arti dan Definisi Kehidupan (faridkoclak.blogspot.com/2015/04)
[13] Hermanto
Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif
Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01) 80
[14] Mawardi,
Nur Hidayati, IAD—ISD-IBD, (Bandung:
Pustaka Setia, cet. VI, 2000) 167
[15] Ibid
167-168
[16] Ibid 168
[17] M.HABIB
MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA:
Usaha Nasional) 99
[18] Ibid 100
[19] Ibid 99
[20] Mawardi,
Nur Hidayati, IAD—ISD-IBD, (Bandung:
Pustaka Setia, cet. VI, 2000) 168-169
[21] Ibid 133
[22] Ibid 147
[23] Ibid
170-171
[24] M.HABIB
MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA:
Usaha Nasional)159
[25] Ibid
[26] Hermanto
Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif
Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01) 86
[27] Ibid
87-88
[28] Mawardi,
Nur Hidayati, IAD—ISD-IBD, (Bandung:
Pustaka Setia, cet. VI, 2000)177
[29] M.HABIB
MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA:
Usaha Nasional)173
[30] Ibid
174-178
[31] Hermanto
Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif
Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01)89
[32] Mawardi,
Nur Hidayati, IAD—ISD-IBD, (Bandung:
Pustaka Setia, cet. VI, 2000)178
[33] M.HABIB
MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA:
Usaha Nasional)181
[34] Hermanto
Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif
Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01)101
[35] Mawardi,
Nur Hidayati, IAD—ISD-IBD, (Bandung:
Pustaka Setia, cet. VI, 2000)178
[36] M.HABIB
MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA:
Usaha Nasional)192-194
[37] Hermanto
Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif
Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01)103
[38] M.HABIB
MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA:
Usaha Nasional)213
[39] Hermanto
Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif
Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01)103-104
[40] M.HABIB
MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA:
Usaha Nasional)223
[41] Ibid 224
[42] Mawardi,
Nur Hidayati, IAD—ISD-IBD, (Bandung:
Pustaka Setia, cet. VI, 2000)181;182
[43] M.HABIB
MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA:
Usaha Nasional)225-227

Tidak ada komentar:
Posting Komentar