Kamis, 01 November 2018

KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR DALAM AGAMA, FILSAFAT, dan AGAMA | IBD


MAKALAH
KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR DALAM AGAMA, FILSAFAT, dan AGAMA

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI MATA KULIAH IAD IBD ISD

Dosen Pengampu :
MUNDIRO LAILATUL MUAWARAH, M. Hum










Disusun Oleh :
Qurotul Ainun nafisah
Saiful, dan
Saiful Rijal



Prodi: Pendidikan Agama Islam
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH “AL-IBROHIMY”
GALIS BANGKALAN
2018 



BAB I

PEBDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG
Dilihat dari segi kebudayaan, pembangunan tidak lain adalah usaha sadar untuk menciptakan kondisi hidup manusia yang lebih baik. Menciptakan lingkungan hidup yang lebih serasi. Menciptakan kemudahan atau fasilitas agar kehidupan itu lebih nikmat. Pembangunan adalah suatu intervensi manusia terhadap alam lingkungannya, baik llingkungan alam fisik, maupun lingkungan social budaya[1].
   Diakui secara umum bahwa kebudayaan merupakan unsur penting dalam proses pembangunan suatu bangsa. Lebih-ebih jika bangsa itu sedang membentuk watak dan kepribadiannya yang lebih serasi dengan tantangan zammannya[2].
   Untuk itulah Mari kita belajar bersama-sama tentang masalah keudayaan ini untuk bersama-sama pula membangun bangsa menjadi lebih maju daripada generasi-generasi sebelumnya.
2.      PENGERTIAN ILMU BUDAYA DASAR
Ilmu Budaya Dasar (IBD) adalah suatu ilmu yang di berikan sebagai pelengkap pembentukan sarjana paripurna, yang mampu memecahkan persoalan yang timbul dalam lingkungan masyarakat yang merupakan unsur penting dalam proses pembangunan suatu bangsa[3].
            Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang di harapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang di kembangkan untuk mengkaji masalah-masalah dan kebudayaan[4].
IBD merupakan suatu ilmu yang diberikan sebagai pelengkap pembentukan sarjana paripurna,yang mampu memecahkan persoalan yang timbul dalam lingkungan masyarakat yang merupakan unsur penting dalam proses pembangunan suatu bangsa.[5]
            Dari dua paragraf diatas dapat kita pahami bahwa IBD adalah ilmu yang apabila kita pelajari maka kita akan dapat mengetahui masalah apa yang sedang terjadi dalam masyarakt beserta solusinya.

3.      RUMUSAN MASALAH
a.    Konsepsi IBD dalam Agama
b.    Konsepsi IBD dalam Filsafat
c.    Konsepsi IBD dalam Kehidupan
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam Agama
Salah satu syarat dalam kehidupan manusia yang teramat penting ialah keyakinan,sebagian orang dianggap menjelma sebagai agama.agama bertujuan sebagai pendamai rohani dan kesejahteraan jasmani.yaitu percaya dengan adanya Tuhan hyang maha Esa,yangg menciptakan dan memelihara semua yang ada di dalam dunia ini.
Orang yang  percaya akaan adanya Tuhan akan selalu merasa dilindungi oleh tuhan dalam semua suasana,keadaan yang  sebagaimana mereka tidak merasa takut.Kepercayaan seseorang kepada yang berkuasa itu bisa berkembang  sesuai dengan perkembangan pikiran dan peradaban manusia itu sendiri.Kalau dahulu orang mempercayai benda-benda,binatang-binatang,barang-barang,batu dan sebagainya yang dapat menolongnya untuk mencapai rasa aman.[6]

1.     Pengertian Agama
Agama dalam bahasa Indonesia mempunyai arti sama dengan “diri” dalam bahasa arab dan smit,atau “religion”dalam bahasa inggrisnya.Menurut bahasa agama berasal dari bahasa sanskerta  yang mempunyai arti tidak pergi,tetap ditempat ,turun temurun
Menurut secara istilah Agama,seperti yang ditulis Anshari bahwa antara Agama,diin,religion,masing-masing mempunyai atri etimologi sendiri-sendiri,juga mempunyai riwayat-riwayat tersendiri,namun ketiga istilah tersebut dalam pengertian teknis terminologis mempunyai makna yang sama,yaitu:
·         Agama,din dan religion merupakan satu sistem credo(tata keimanan atau tata keyakinan)atas adanya tuhan yang maha mutlak diluar diri manusia
·         Agama juga merupakan sustu sistem ritus(tata peribadatan)kepada yang dianggapnya maha mutlak
·         Agama juga merupakan sistem norma(tata kaidah atau aturan)
Menurut Durkheim Agama adalah sistem kepercayaan dan praktik yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal hal yang kudus.
Menurut Spencer Agama merupakan kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap maha mutlak,sedangkan menurut Dewey menyatakan bahwa agama adalah mencarian manusia terhadap cita-cita umum dan abadi meskipun dihadapkan dengan tantangan yang dapat mengancam jiwanya
Dengan demikian, hingga saat ini maih belum ada definisi agama yang benar dan dapat diterima secara universal.[7]
2.         KEHALUSAN
Kehalusan berasal dari kata halus, yang artinya tidak kasar(perbuatan)lembut,sopan,baik budi bahasanya,beradap.Kehalusan juga mempunyai arti sifat-sifat yang halus,sopan,dan juga beradap.Halus bagi manusia adalah bagaimana cara kita bersikap lembut ketika berhadapan dengan orang lain.Lembut dalam kata-kata,lembut dalam roman muka juga lengkap dalam anggota badan yang lainnya.
Lawannya dari halus ialah kasar atau sikap yang emosional,sombong,kaku,atau bermusuhan.
Sikap lembut atau kehalusan ini merupakan gambaran hati yang tulus dan menunjukkan cinta kasih terhadap sesama.Oleh sebab itu,orang yang bersikap lembut biasanya suka memperhatikan keperluan orang lain,juga suga menolong orang lain.Dan juga termasuk perwujudan dari sifat-sifat ramah,sopan,sederhana dalam pergaulan
Kehalusan dan Kekasaran dapat kita ketahui dari gerak gerik atau tingkah laku,raut muka,dan tutur bahasanya,Dan aggota badan yang bisa melahirkan sikap kehalusan itu adalah kaki, tangan, kepala, mulut, bibir, mata,dan bahu.
Dalam rohaniah yang melahirkan sikap ialah kemauan,perasaan,pemikiran,rasa dan cipta.Tiga unsur ini saling berkaitan dan mempengaruhi,dalam mewujudkan tingkah laku,tutur bahasa,peerbuatan,sehingga kita bisa menilai kehalusan dan kekasarannya.[8]


B.     Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam Filsafat
FILSAFAT,KEBUDYAAN DAN KEMANUSIAAN
Filsafat, bersama seni, teologi hokum dan sejarah termasuk dalam pengelompok pengetahuan budaya atau The Humanities. (Samsoeri, 1940 : 2).
Dari sini jelaslah bahwa filsafat dalam IBD adalah sebagai media.kongkritnya ,IBD menggunakan pengertian – pengertian yang berasal dari fisafat untuk melatih kepekaan mahasiswa dan memperluas wawasan pemikirannya dan mengamati suatu fenomenaataumengkaji suatu masalah kemanusiaan atau masalah.
1.      Arti filsafat
Filsafat terambil dari bahasa arab falsafah, berasal dari bahasa yunani philosopia. Yang terakhir dapat di uraikan menjadi : philo berarti” cinta”, dan shopia berarti “hikmah”atau “ kebijaksanaan”.jadi philosopia berarti “cinta hikmah” atau “cinta kebijaksanaan”.(Hoesin , 1964 : 14 dan pudjawijatna,1965 : 1).
Terdapat banyak sekali rumusan para ahli tentang pengertian filsafat yang berbeda satu sama yang lain.Perbedaan dalam merumuskan pengertian ini wajar,lebih-lebih bila di ingat bahwa filsafat melambangkan hal yang abstarak.Sedangkan untuk pengertian kata-katayang menunjuk benda-benda yang kongkrit saja orang sukar bersepakat.
Gazalba (1979 : 41) merumuskan pengertian filsafat berangkat dari kata kerjanya berfilsafat ialah mencari kebenaran  dari kebenaran untuk kebenaran ,tentang segala sesuatu yang di masalahkan dengan berpikir secara radikal, sistematik dan universal.Apabila seseorang berpikir demikian dalam menghadapi masalahdalam hubungannya dengan kebenaran , adalah orang itu telah memasuki filsafat .Penuturan dan uraian yang tersusun oleh pemikirannya it adalah filsafat.Bertolak dari kata kerjanya, dapat di rumuskan kata bendanya :” filsafat adalah sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang di persoalkan sebagai hasil dari berpikir secara radikal sistematik dan universal”.
Anshori (1982 : 82)setelah mempelajari berbagai rumusan tentang filsafat , samapai kepada kesimpulan bahwa :
a)      Filsafat adalah “ilmu istimiwa” yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat di jawaboleh pengetahuan biasa ,karena masalah yang termaksud berada di luar atau di atas jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
b)      Filsafat ialah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami ( mendalam dan menyelami) secara radikal dan integral serta sistematik hakikat sarwa yang ada (Tuhan, alam semesta dan manusia) serta sikap manusia termaksud sbagai konsekukensi dari pada faham(pemahaman) –nya tersebut.

2.      Karekteristik  fisafat
Dalam definisi Gazalba di muka terdapat beberapa hal yang patut diperbicangkan disini sehubungan karekteristik filsafat.
Pertama:  Berfilsafat adalah mencari kebenaran.Didalam mencari kebenaran , filosofi tidak bertujuan untuk mencari pijian ,kedudukan,kemuliaan dan sejenisnya,melainkan semata matakarena ia menghayatigerak dalam hatinya.demikian juga filosof yang berpikirmencari kebenaran semata-mata karna menghayati masalah yang harus di cari jawabannaya.Filosof sejati adalah pengabdi kebenaran.
Kedua: Berfilsafat adalah berpikir. Tapi berpikir tidak selalu berflsafat.Berfikir dikatakan berfisafat apabila mengandung tiga ciri: radikal sistematik dan universal.
a)      Radikal artinya berakar atau mendasar, siap membongkar  tempat  berpijak secara fundamental;
b)      Sistematik artinya logis, bergerak selangkah demi selangkah dengan penuh kesadaran dan urutan yan bertanggung  jawab dan saling hubungan yang teratur;
c)      Universal artinya umum dan menyeluruh,tidak picik dan tidak terbataspada bagian –bagian tertentu.
d)     Seorang yang berfilsafat diilustrasikan sebagai seorang yang berpijak di bumi dan mencengadahke bintang-bintang.Dia ingin mengetahui hakikat dirinyadalam ke semestaan galaksi.Atau seorang yang berpuncak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah di bawahnya.Dia ing menyimak kehadirannya dengan ke semestaan yang di tatapnya.Seorang yang berfikir filsafat,tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandangilmu itu sendiri.Dia ingin melihat hakikatilmu dan konstelasipengetahuan yang lainnya.Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral dan kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakinapakah ilmu itu membawa kebahagiaankepada dirinya

3.      Bidang telaah/Obyek filsafat
             Pada dasarnya filsafat mencelaah segala masalah yang mungkin dapatdi pikirkan manusia.
             Molder (1966 : 12) menulis : “Tiap-tiap manusia yang mulai berpikir tentang diri sendiridan tentang tempat- tempatny dalam dunia akan menghadapi beberapa persoalanyang begitu penting sehingga boleh di beri namapersoalan-persoalaa pokok.Kami rasa terutama tiga persoalanyang dapat di katakan brsifat  pokok, yaitu :
a)      Adakah allah dan siapakah allah itu?;
b)      Apa dan siapakah manusia? Dan
c)      Apakah hakikat dari segala realitas, apakah maknanya dan apakah intisarinya?
Dalam sejarah umat manusia kita melihat bahwa tiga prtanyaan tadi itu sering di jawab dalam agama yang di anut oleh manusia. Tapi tidahlah jarang ilmu fisafat berusaha untuk menjawab perseolan perseoalan pokok itu”.
Dalam definisi anshori di muka  secara eksplisit di sebutkan bidang telaah filsafat, yakni hakikat sarwayang ada meliputi :
a)      Hakikat tahun;
b)      Hakikat alam semesta;
c)      Hakikat manusia.
Para ahli membedakan obyek materia dari obyek forma. Obyek sebagai di sebutkan di atas (sarwa yang ada) adalah merupakan obyek materia filsafat.sedang obyek formanya adalah usaha mencariketerangan sedalam- dalamnya tentang obyek materia tersebut.
4.      Batas dan relavitas filsafat
Dimuka telah di mukakan bahawa fisafat adalah “ilmu istimewa” yang mencoba menjaw masalah-masalah yang tidak dapat di jawab oleh ilmu pengetahuan biasa.Tapi dapatkah filsafat memberi jawaban atas segala soal dan pertanayaan?
Pudjawiyanto (1965 :  19 – 20) menjawab: “pada prinsipnya memang dapat dan kalau belum dapat , maka terus di usahakan .Tetapi usaha selalu denagan pikiran belaka.Maka dari itu bukanlah filsafat itu sama dengan agama.Ada kemungkinan agam memberi pengetahuan yang lebih tinggi dari filsafat , pengetahuan yang tercapai oleh budi biasa karena demikin tingginya hingga hanya dapat di ketahui karena di wahyukan”.
Dalam hubungan ini Weiss (1967 : 13) memberikan ilustrasi “makhluk manusia dengan segala mikanismejiwanay yang rumit, dengan segala hasrat-hasratdan ketakutan-ketakuatannaya, perasaan ke tidak pastian spekulatifnya, melihat dirinya di hadapkan pada satu alam di mana kemurahan dan kekejaman, bahaya dan ke tentraman, bercampur aduk dalam satu cara yang dahsyat yang teruraikan dan dampaknya bekerja atas garis-garis yang dampaknya berbeda  dari metode-metode dan struktur pikiran manusia.Filsafat intelaktual murni atau ilmu pengetahuan eksprimental melulu tidak pernah  sanggup memecahkan  konflik ini inilah justru titik dimana agama melangkah maju”.
“Bila mana anda Kattsoff (anshori,1982 : 106) menghatapkan jawaban-jawaban tingkat terakhir atas perseolan-persoalan anda artinya jawaban-jawaban yang oleh semua ahli filsafat dianggap merupakan kebenaran, maka niscaya anda akan kecewa sekali”.
Dan El-Bahy (1965 : 9) menampili : “berhubung dengan itu sipa saja yang mengikuti filsafat atau tunduk pada hukum buatan manusia itu selalu akan sadar bahwa yang dikutipnya atau ditaatinya itu adalah suatu sistem buatan manusia yang tidak pasti menjamin dan keadilan”.
Pendapat-pendapat diatas menegaskan batas dan relafitas filsat, yang secara singkat dapat disimpulkan bahwa kebenaran filsafat itu sifatnya spekulatif, subyektif dan relatif.
“segala-galanya memang dapat ditanyakan dan bertanya itu habis-habisnya”, kata Beerling (Ansari, 1982:113) yang selanjutnya mengingatkan bahwa “dari jaman dahulu berbagai filsafat telah mengetahui akan bahayanya dan mereka memberi peringatan. Sekiranya pertanyaan ini tidak dihentikan dengan suatu jawaban yang pasti, sehingga semuanya dapat dipahamkan, maka kita akan terdampar pada suatu putaran air”.
Pertanyaan berikutnya: kalau terhadap suatu masalah yang asasi filsafat tidak bisa memberi jawaban atau menjawab dengan spekulasi, dugaan, terkaan dan kiraaan, maka kemanakah manusia harus melangkah?
Disini manusia berada dipersimpangan jalan. Dia bisa mundur selangkah atau tetap dalam status quo dan mejadi seorang pemikir bebas (free-thinker) dengan resiko kegelisahan sepanjang hidup.
Atau menjadi seorang yang maju selangkah mencoba mencari jawaban dari instansi atau institut yang dipercayai dan diyakininya lebih tinggi dari filsafat didalam menjawab masalah-masalah asasi manusia, yang dengan demikian dapat lebih menentramkan jiwanya pula. Instansi atau institut tidak lain adalah agama wahyu.

5.      Filsafat dan kebudayaan
Kebudayaan menurut mukti ali (1982: 4) adalah budidaya, tingkah laku manusia. Tingkah laku manusia digerakkan oleh akal dan perasaannya. Yang mendasari semua itu adalah ucapan hatinya. dan ucapan batin itu merupakan keyakinan dan penghayatannaya terhadap sesuatu yang di anggap benar. Apa yang di anggap itu besar atau kecil adalah agama. Dan agama sepanjang tidak di wahyukan adalah ialah hasil perkiraan filsfat.
            Gazalba (1979 : 72) mendefinisikan kebudayaan sebagai “cara berpikir dan cara merasa, yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan satu waktu”. Definisi gazalba secara implisit menengahkan jenis-jenis kebudayaan. Cara berpikir dan cara merasa merupakan kebudayaan batiniah, sedangkan manifestasinya dalam bentuk cara berlaku dan cara berbuat atau cara hidup adalh ke budayaan lahiriyah. Produk cara berlaku berbuat itu yang berbentuk benda di sebut kebudayaan material.
Apabila di perbandingkan definisi kebudayaan dan definisi filsafat, keduanya bertemu dalam hal berpikir. Kebudayaan adalah cara berpikir. Sedangakan filsafat adalah cara berfikir secara radikal , sistematik dan universal.berpikir demikian berujung pada setiap jiwa ( gazalba) atau ucapan batin (mukti ali). Menifestasinya adalah sikap hidup dan pandangan hidup. Dengan demikian jelaslah , betapa filsafat itu mengendalikan cara berfikir kebudayaan. Di blakang setiap kebudayaan selalu kiata temukan filsafat. Perbedaan kebudayaan dapat di kembalikan kepada perbedaan filsafat.
Kebudayaan juga di pandang sebagai tata nilai(lengeveld dalam Gazalba,1975 : 77). Seorang individu dalam masyarakat atau masyarakat itu sendiri berbuat sesuatu, karena sesuatu itu bernilai atu berguna bagi kehidupannaya. Barang sebagai hasil perbuatan itu di hasratikarena itu di perlukan.dalam demikian barang itu mengandung nilai. Jadi tingkah laku dan hasil perbuatan dalam kebudayaan menuju kepada realisai nilai.
Kalau kebudayaan itu kita pandang sebagai tata nilai.maka timbul pertanyaan : siapakah yang menentukan nilai? Yang pertama sudah tentu tuhan dan kemudian manusia. Tuhan menentekan nilai melalui agama. Manusia menentekan nilai melalui filsafat. Oleh karena itu kebudayaan berpangkal pada manusia. Maka jelas yang menentekan kebudayan adalah filsafat.
           
6.      Filsafat dan masalah manusia
Yang dimaksud masalah manusia adalah mereka yang dipermasalahkan oleh manusia. Ada masalah yang sifatnya segera (immediate problems) ialah masalah-masalah praktis sehari-hari, yang berkenaan dengan keperluan-keperluan pribadi yang mendesak, yang tidak seorangpun dapat mengelakkan diri dari padanya. Dan ada masalah yang sifatnya asasi (ultimate problems) ialah bekenaan dengan hakikat manusia itu sendiri, alam semesta dan Tuhan. Tapi agaknya, masalah terbesar yang di hadapi manusia sepanjang masa adalah tentang dirinya sendiri.
Manusia, seperti telah diutarakan dimuka, merupakan salah satu obyek materia filsafat dan juga ilmu. Ada beberapa pertanyaan asasi tentang manusia:
a)      Bagaimana manusia itu
b)      Apa sebabnya demikian
c)      Apa itu sesungguhnya manusia
d)     Dari mana awalnya
e)      Dan dari mana akhirnya

Dua pertanyaan pertama dijawab oleh ilmu dan tiga yang terakhir dijawab oleh filsafat.
Pertanyaan-pertanyaan tentang diri sendiri (manusia) itu melahirkan pertanyaan-pertanyaan tentang alam semesta. Pertanyaan pertama yang muncul ialah: apakah (hakikat) alam semesta ini? Dari padanya lahir pertanyaan-pertanyaan:
a)      Kapankah alam semesta ini terjadi
b)      Bagaiman terjadinya alam semesta ini
c)      Dari sumber alam apa alam semesta ini memperoleh hidupnya
d)     Dan apakah ahir yang dituju dengan gerakan ini.
                                                                         
Pertanyaan-pertanyaan tentang alam semestaini membawa serangkaian pertanyaan lebih lanjut, yang pada akhirnaya sampai kepada pertanyaan-pertanyaan tentang sang pencipta, misalnya :
a)      Apakah ia suatu pribadi atau bukan pribadi
b)      Apbila ia sudah pribadi, apakah hakikat dan konstitusi sang pribadi itu,
c)      Apakah satu pribadi seperti kita secara fisik,
d)     Apakah dia sesuatu proses kerusakan kematian, apakh itu kekal,
e)      Apakah dia itu satu,dua,tiga ataukah lebih dari itu jumlahnya dan seterusnya.
      Pertanyaan tentang manusia , alam semesta dan tuhan itu adalah pertanyaan-pertanyaan asasi, masalah-masalah fundamental yang di gelutioleh setiap manusia yang berfikir.
      Tetapi, apakah pertanyaan asasi itu penting untuk setiap orang ? apakah pertanyaan itu ada hubungannya dengan problem praktis umat manusia ? apakah melayani pertanyaan-pertanyaan semacam itu bagi manusia praktis-praktis tidak berartimembuang-buang waktu dan energi ?
Nampaknya , pertanyaan asasi itu hanya berarti hanya berarti bagi filsuf saja. Tapi ada kenyataannya tidak demikian, setiap orang yang memperhatikan hidup ini dengan serius, setiap orang yang tidak mawu kehilangan makna dari setiap amal dan aktivitasnya, setiap orang yang tidak rela “serkup” bagi mesin kehidupan setidak-tidaknya ketika orang merasa di dera oleh beban hidup dan rumutnya liku-liku kehidupan, segera akan hadir di hadapannaya pertanyaan-pertanyaan asasi tersebut.

Jawaban seseorang terhadap suatu pertanyaan asasi, membawa konsekuensipraktis bagi yang bersangkutan dalam menangani masalah-masalah dan mendesak yang di temuinya dalam kehidupan sehari hari.

Seorang yang telah sampai pada keyakinan bahawa tuhan itu ada tentu berbeda tingkah laku sehariannaya dengan orang yang tidak mempecayai adnya Tuhan. Seorang yang berpandangan “hidup untuk hidup” tentu lain sikap dan cara hidupnya dari yang berpandangan “hidup untuk mati” demikian seterusnya.

Namun secara commonsense, denagan membawakan pengertian-pengertian kepada mahasiswa, kita dapat mewujudkan tujuan IBD yakni membantu memperluas wawasan berpikir mahasiswa, karena filsafat senantiasa mendorong seseorng untuk :
a)      Berusaha mengetahui apa yang telah di ketahui dan apa yang belum di ketahui;
b)      Berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahuinya dalam kesemestaan yang akan tak terbatas ini;
c)      Mengoreksi diri,berani melihat sejauh nana kebenaran yang dicaritelah di jangkaunya;
d)     Tidak apatis terhadap lingkungan dan terhadapnilai yang hidup dalam masyarakat; dan
e)      Senantiasamemberikan maknabagi setiap amal perbuatannaya[9].

C.    Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam Kehidupan
1.      Arti Kehidupan
I Ketut Gede Yudantara menyatakan, Kehidupan merupakan anugrah dan amanah sebagai ciptaan tuhan, Kehidupan merupakan cobaan hidup yang selalu dirundung suatu permasalahan, Kehidupan merupakan penebusan dosa serta merupakan suatu proses reinkarnasi[10] (dari bahasa latin untuk ‘’lahir kembali’’ atau ‘’kelahian semula’’ merujuk kepada kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan di lahirkan kembali dalam bentuk lain[11]).
Paulus Wahana juga menyatakan, Kehidupan merupakan suatu fakta, yang dengan sendirinya terkait dengan nilai[12].
Kehidupan adalah sebuah perjalanan fakta yang diberikan sang Pencipta sebagai amanah, yang didalamnya terdapat masalah-masalah atau cobaan yang mau tidak mau harus di jalani dengan baik,  dan kesemuanya terkait dengan nilai, dan semua itu terkhusus pada kehidupan manusia.
2.      Karakteristik Kehidupan (Manusia)
1)      Manusia dan Cinta Kasih
a.       Arti Cinta Kasih
Cinta merupakan salah satu dari kebutuhan hidup manusia yang fundamental. Victor hago (pujangga terkenal) menyatakan mati tanpa cinta sama halnya dengan mati penuh dosa. Sederhananya cinta adalah sebagai paduan rasa simpati antara dua makhluk[13].
Cinta kasih bersumber pada ungkapan perasaan yang didukung oleh unsur karsa, yang dapat berupa tingkah laku dan pertimbangan dengan akal yang menimbulkan tanggung jawab. Dalam cinta kasih tersimpul pula rasa kasih sayang dan kemesraan, belas kasihan dan pengabdian. Cinta kasih yang disertai tanggung jawab menciptakan keserasian, keseimbangan dan kedamaian antara sesama manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan[14].
b.      Macam Cinta Kasih
a)    Cinta Kasih antara orang tua dan anak.
b)   Cinta Kasih antara pria dan wanita.
c)    Cinta kasih antara sesame manusia.
d)   Cinta Kasih antara manusia dan Tuhan.
e)    Cinta Kasih manusia terhadap lingkungannya.[15]
c.       Ungkapan Cinta Kasih
          Adalah ungkapan perasaan yang di wujudkan dengan tingkah laku, seperti dengan kata-kata, tulisan, gerak atau media lainnya. Ungkapan dengan kata-kata misalnya aku cinta padamu, ungkapan dengan tulisan misalnya mengirim surat cinta, ungkapan dengan gerak misalnya, salaman, pelukan, dan rangkulan, ungkapan dengan media misalnya memberi setangkai bunga atau kado. Ungkapan ini juga dapat disampaikan dalam bentuk karya budaya, misalnya seni suara, seni sastra, seni drama, film, dan seni lukis[16].
2)      Manusia dan Keindahan
a.       Pengertian keindahan
Menurut Leo Tolstoy (Rusia), dalam bahasa Rusia terdapat istilah yang serupa dengan keindahan yaitu ‘’krasota’’, artinya suatu yang mendatangkan rasa yang menyenangkan bagi yang melihat dengan mata. Bangsa Rusia tidak punya pengertian keindahan untuk music. Bagi bangsa Rusia yang indah adalah yang dapa dilihat oleh mata[17].
Menurut Humo (inggris), keindahan adalah suatu yang dapat mendatangkan rasa senang[18]. Menurut Sulzer, yang indah itu hanyalah yang baik, ciptaan itu belum indah. Keindahan harus dapat memupuk perasaan moral. Jadi ciptaan amoral adalah tidak indah, karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral[19].
Jadi keindahan adalah segala sesuatu yang baik dan menyenangkan.
b.      Macam keindahan atau seni
a)      Kesusastraan senirupa seperti puisi, drama, dan prosa fiksi.
b)      Music, seperti music rakyat, music tradisional, music kolektif, music primitive, dan lain sebagainya.
c)      Agama
3)      Manusia dan Penderitaan
a)      Arti penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan Sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat berbentuk lahir atau batin, keduanya. Termasuk penderitaan ialah keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan, dan lain-lain[20]
b)      Macam penderitaan
a)      Phobia (claustrophobia adalah rasa takut terhadap ruangan tertutup, dan agoraphobia adalah rasa tkut pad ruangan terbuka, penderita ini dapat menjadi begitu gugup sehingga mereka takut keluar rumah atau ketempat umum lainnya)[21].
b)      Frustasi (menurut Dr. Kartini Kartono, frustasi merupakan suatu keadaan, dimana suatu kebutuhan tidak dapat terpenuhi dan tujuan bisa tercapai)[22].
c)      Siksaan, rasa sakit, dan neraka[23].
c)      Manusia dan Keadilan
a)        Keadilan
Kong Hu Cu , beliau bertutur tentang keadilan ini antara lain dengan mengatakan ‘’bila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannyamaka itulah keadilan’’. Agaknya menyadari akan peranan masing-masing dari suatu fungsi merpakan suatu keharusan bagi tercapainya suatu keadilan versi Kong Hu Cu ini[24].
Filisof Aristoeles juga mencoba memberikan pandangan yang hakiki terhadap keadilan: ‘’keadilan adalah kelayakan dalam tindakan mansia (Faierner in human action)’’[25].
b)      Kejujuran
Kejujuran berarti bahwa apa yang di katakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya dan di tepati janjinya baik yang terucap atau belum sehingga hatinya bersih dari perbutan yang dilarang oleh agama dan hukum[26].
c)      Kecurangan (lawan dari kejujuran)
d)     Pemulihan nama baik
e)      Pembalasan
f)       Macam keadilan
·      Keadilan legal atau keadilan moral (setiap orang menjalankan pekerjan menurut sifat dasarnya yang paling cocok baginya).
·      Keadilan distrbutif (hal-hal yang sama di perlakukan sama, dan hal-hal yang tidak sama di perlakukan tdak sama).
·      Keadilan komutatif (memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum)[27].
4)      Manusia dan Pandangan Hidup
a)      Arti pandangan hidup
Pandangan hidup merupakan suatu dasar atau ladasan untuk membimbing kehidupan jasmani danrohani.pandangan hidup ini sangat bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau Negara. Semuaperbuatan tingkah laku dan atura serta undang hrus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang telah dirumuskan[28].
b)      Klasifikasi pandangan hidup
·      Pandangan hidp yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang muthlak kebenarannya.
·      Pandangan hidup yang berupa ideologi yang di sesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada Negara tersebut.
·      Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relative kebenarannya.[29]
c)      Langkah-langkah berpandangan hidup yang baik
-mengenal, –mengerti, –menghayati, –meyakini, –mengabdi, dan -mengamankan[30].
d)     Cita-cita dan pandangan hidup
Cita-cita menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran seseorang untuk memperoleh apa yg ingin diperoleh dimasa yang akan datang[31].
Cita-cita tidak sama dengan pandangan hidup. Sekalipun demikian cita-cita erat sekali kaitannya dengan pandangan hidup. Pandangan hidup merupakan bagian dari hidup manusia yang dapat mencerminkan citra individu maupun masyarakat. Selain itu juga mencerminkan cita-cita atau aspirasi seseorag dan sekelompok orang atau masyarakat[32].
Cita-cita yang baik menurut pandangan hidup islam adalah cita-cita yang terdapat keseimbangan antara di dunia dan di akhirat. Dengan adanya keseimbangan ini maka hubungan antara manusia dengan Alloh dan hubungan antara sesama manusia akan sama-sama terjalin dengan lancar[33].
5)      Manusia dan Tanggung Jawab
a)      Arti tanggung jawab
         Adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab adalah kewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawaban dan menanggung akibatnya[34].
         Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkahlaku atau perbuatannya. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya[35].
         Jadi tanggung jawab adalah suatu perbuatan yang harus di tanggung atau diperbuat atau di selesaikan oleh seorang pemikul tanggung jawab tersebut.
b)      Macam-macam tanggung jawab
a)      Tanggung jawab terhadap dirinya sendiri
b)      Tanggung jawab terhadap keluarga
c)      Taggung jawab terhadap masyarakat
d)     Tanggunng jawab terhadap Tuhan yang maha Esa.[36]
6)      Manusia dan Kegelisahan
a)      Arti Kegelisahan
Kegelisshan berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak tntram hatinya, selalu merasa kwatir tidak tenang, tidak sabar, cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yng menggambarkan sseorang todak tentram hati maupun perbuatannya, merasa kwatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan. Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak gerik seseorang dalam situasi tertentu. Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi kecemasan[37].
b)      Pembagian kegelisahan
Menurut Sigmund Freud kecemasan dibagi menjadi tiga macam, yakni : kecemasan tentang kenyataan/obyektif, kecemasan neuritis, dan kecemasan moril[38].
·    Kecemasan obyektif, adalah suatu pengalaman perasaan sbagai akibat pengamatan atau suatu bahaya dari luar, takut kalau ia berada dengan benda-benda tertentu dalam keadaan tertentu.
·    Kecemasan neorotis, timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriyah, seperti gugup, gagap, dan phobia.
·    Kecemasan moril, disebabkan karena pribadi seseorang, seperti iri, dengki, marah, gelisah, cinta, rasa kurang.[39]
7)      Manusia dan Harapan
Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia tanpa harapan berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal pun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya[40].
a)    Arti harapan
Harapan berasal dari kata harap, artinya keinginan supaya sesuatu terjadi, sedangkan harapan itu sendiri mempunyai makna sesuatu yang terkandung dalam hati setiap orang yang datangnya merupakan karunia dari Tuhan, yang sifatnya terpatri dan sukar dilukiskan. Yang mepunyai harapan atau keinginan itu hati. putus harapan berarti putus asa[41].
b)      Kategori harapan
Abraham Maslow mengategorikan kebutuhan manusia menjadi lima macam, yang merupakan lima harapan manusia, yaitu:
·      Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival).
·      Harapan untuk memperoleh keamanan (safety).
·      Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai dan dicintai (beloving and love).
·      Harapan memperoleh status atau untuk diterima atau diakui lingkungan.
·      Harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita (self actualization).[42]
c)      Sebab-sebab manusia mempunyai harapan
·      Dorongan kodrat (sifat alamiyah yang sudah tejelma dalam diri manusi).
·      Dorongan kebutuhan hidup
·      Manifestasi harapan dalam seni (manusia dalam usha untuk memenuhi apayang di harapkan dapat menyalurkan kebutuhan itu melalui kreasi atau hasil karyanya).[43] 

BAB III
KESIMPULAN
Suatu budaya memiliki nilai-nilai tersendiri, terutama dari agama. Dan dari budayalah manusia jadi berguna di kalangan masyarakat yang bisa menjadi pembeda antara orang lain.
Filsafat, bersama seni, teologi hokum dan sejarah termasuk dalam pengelompok pengetahuan budaya atau The Humanities. (Samsoeri, 1940 : 2). Dari sini jelaslah bahwa filsafat dalam IBD adalah sebagai media.kongkritnya ,IBD menggunakan pengertian – pengertian yang berasal dari fisafat untuk melatih kepekaan mahasiswa dan memperluas wawasan pemikirannya dan mengamati suatu fenomenaataumengkaji suatu masalah kemanusiaan atau masalah.
Kehidupan adalah sebuah perjalanan fakta yang diberikan sang Pencipta sebagai amanah, yang didalamnya terdapat masalah-masalah atau cobaan yang mau tidak mau harus di jalani dengan baik,  dan kesemuanya terkait dengan nilai, dan semua itu terkhusus pada kehidupan manusia, yang mana manusia tersebut memiliki karakteristik bermacam-macam, seperti dalam cintakasih, keindahan, keadilan, penderitaan dan lain-lain.


DAFTAR PUSTAKA

Halil, Hermanto, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01)
Mawardi, Hidayati Nur, IAD—ISD-IBD, (Bandung: Pustaka Setia, cet. VI, 2000)
                             
MUSTOPO , M. HABIB, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional)
Supadie Didiek Ahmad dan Sarjuni,Pengantar Studi Islam,Rajawali pers,cet ke I,Jakarta,2011


[1] M. HABIB MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional) 13     
[2] Ibid           
[3] Hermanto Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01) 02
[4] M.HABIB MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional) 15      
[5] Hermanto Halil,IAD ISD IBD,Pamekasan:Duta Media Publishing,2015,hlm.2.
[6] Habib Mustopo,ILMU BUDAYA DASAR Manusia dan Budaya,Kumpulan essay,Usaha Nasional,Surabaya,Hlm.59.
[7] Didiek Ahmad supadie dan Sarjuni,Pengantar Studi Islam,Rajawali pers,cet ke I,Jakarta,2011,hlm. 35-36.
[8] Mawardi,IAD ISD IBD,CV.Pustaka Setia,Bandung,2000,hlm.165-166
[9]  M.HABIB MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional) 67-75               
[10] MuhammadFarid, Arti dan Definisi Kehidupan (faridkoclak.blogspot.com/2015/04)
[11] Reinkarnasi – Wikipedia bahasa Indonesia
[12]MuhammadFarid, Arti dan Definisi Kehidupan (faridkoclak.blogspot.com/2015/04)
[13] Hermanto Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01) 80
[14] Mawardi, Nur Hidayati, IAD—ISD-IBD, (Bandung: Pustaka Setia, cet. VI, 2000) 167
[15] Ibid 167-168
[16] Ibid 168
[17] M.HABIB MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional) 99
[18] Ibid 100
[19] Ibid 99
[20] Mawardi, Nur Hidayati, IAD—ISD-IBD, (Bandung: Pustaka Setia, cet. VI, 2000) 168-169
[21] Ibid 133
[22] Ibid 147
[23] Ibid 170-171
[24] M.HABIB MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional)159
[25] Ibid
[26] Hermanto Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01) 86
[27] Ibid 87-88
[28] Mawardi, Nur Hidayati, IAD—ISD-IBD, (Bandung: Pustaka Setia, cet. VI, 2000)177
[29] M.HABIB MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional)173
[30] Ibid 174-178
[31] Hermanto Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01)89
[32] Mawardi, Nur Hidayati, IAD—ISD-IBD, (Bandung: Pustaka Setia, cet. VI, 2000)178
[33] M.HABIB MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional)181
[34] Hermanto Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01)101
[35] Mawardi, Nur Hidayati, IAD—ISD-IBD, (Bandung: Pustaka Setia, cet. VI, 2000)178
[36] M.HABIB MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional)192-194
[37] Hermanto Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01)103
[38] M.HABIB MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional)213
[39] Hermanto Halil, IAD, ISD, IBD dalam Perspektif Islam, (Pamekasan, Duta Media Publishing, 01)103-104
[40] M.HABIB MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional)223
[41] Ibid 224
[42] Mawardi, Nur Hidayati, IAD—ISD-IBD, (Bandung: Pustaka Setia, cet. VI, 2000)181;182
[43] M.HABIB MUSTOPO, ILMU BUDAYA DASAR, (SURABAYA: Usaha Nasional)225-227

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MODUL PEMBELAJARAN IPS KELAS VIII

  Materi: Lembaga Keuangan untuk Kesejahteraan Rakyat A. Identitas Modul Mata Pelajaran : IPS Kelas/Semester : VIII / Genap Materi Pokok : L...