Senin, 30 Maret 2015

AMANAH ORANGTUA TERHADAP ANAK

Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar (Q.S. An Nisaa’ : 9)
Diantara amanah terbesar yang Allah swt. berikan, ialah anak –anak yang ada pada keluarga kita masing-masing. Dalam pandangan Islam, anak bukan hanya sebagai karunia dan nikmat, yang dapat memberi kebahagiaan dan kesejukan hati untuk kedua orang tuanya, namun anak juga merupakan amanah/titipan dari Allah swt. yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
Setiap orang tua memiliki tanggung jawab yang besar terhadap anak-anaknya, bukan hanya harus memenuhi segala kebutuan dasar (pokok) materi mereka, tetapi juga menyangkut masalah kesehatan, pendidikan, penerapan nilai-nilai keagamaan,. serta memberikan contoh keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Anak adalah rezeki dari Allah swt. untuk kedua orang tuanya. Seti ap anak yang lahir ke dunia ini sudah disiapkan rezekinya oleh Allah swt.Mulai dari dalam kandungan (rahim), Allah swt. memberikan makanan dan minuman melalui tali plasenta ibunya, setelah mereka lahir, Allah swt. sudah siapkan dengan ASI (air susu ibu) yang sehat, higinis dan memiliki daya imun yang kuat terhadap virus-virus yang masuk ke dalam tubuhnya. Setelah anak-anak sudah memulai memakan makanan selain ASI, maka Allah swt.pun menumbuhkan gigi-gigi mereka, agar dapat mengunyah makanan dengan lembut dan mudah dicerna oleh usus-usus dalam perutnya.
Oleh karenanya, wahai orang tua yang budiman, janganlah takut menjadi miskin, jika kita diberi anak oleh Allah swt., karena pasti Allah swt. akan menyertainya dengan rezeki yang berkah. Jika diibaratkan, ketika kita titip sepeda motor di tempat penitipan, saat kita hendak melanjutkan perja- lanan ke tempat bekerja, atau di pasar-pasar, maka kita akan memberikan uang titipan motor kepada orang yang menjaganya. Maka demikian pula halnya dengan anak yang Allah swt. titipkan, pasti Allah swt. akan mem bayar / memberi rezeki kepada kita, sebagai orang tua yang menjaganya, asalkan kita selalu berikhtiar/berusaha dan berdo’a kepada-Nya.
Jika kita perhatikan firman Allah swt. pada surat An Nisaa’ ayat 9 di atas, ada 3 hal yang harus diperhatikan oleh para orang tua, yaitu:
1. Tidak meninggalkan generasi yang lemah
Suatu hal yang ditakutkan oleh Allah swt. terhadap orang tua, ialah apabila mereka memiliki anak-anak yang lemah, yang nantinya akan ber- pengaruh terhadap kesejahteraan hidupnya. Lemah yang dimaksud disini dapat berupa lemah iman, lemah akhlaq dan moral, lemah ekonomi, lemah fisik/jasmani serta lemah ilmu pengetahuan dan teknologi. Agar hal ini tidak terjadi, maka orang tua hendaknya lebih memperhatikan pendidikan mereka, baik pendidikan di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sekitar. Karena dengan pendidikan yang baik, berkualitas dan memiliki muatan agamis, se- mua kekhawatiran yang ditakutkan dapat dihindari.
Terlebih lagi, pendidikan agama bagi mereka. Sejak usia dini perkenalkan anak-anak kita kepada agama Islam, ajak mereka shalat berjama’ah ke masjid, biasakan membaca Al Quran bersama di rumah, serta berikan me- reka keteladanan /uswah yang terbaik. Hendaknya kita memasukkan anak-anak kita ke tempat-tempat pengkajian Alquran (TPA), dan jika mereka sudah berusia remaja dan dewasa hendaknya diikut sertakan dalam kegiatan- kegiatan keagamaan di sekolah-sekolah (melalui ROHIS), dimasjid-masjid dan mushalla. Karena kalau kita menginginkan memiliki anak-anak yang saleh dan salehah, hanya dengan mengandalkan 2 jam pelajaran agama dalam seminggu di sekolah-sekolah umum, maka hal ini akan jauh dari harapan.
Perhatikan firman Allah swt. dalam surat At Tahrim ayat 6 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”
2. Perintah untuk bertakwa
Setelah kita diingatkan oleh Allah swt. untuk selalu memperhatikan anak-anak agar jangan sampai mereka menjadi generasi yang lemah, maka Allah swt. kembali mengingatkan kita untuk selalu bertakwa kepada-Nya.
Kenapa harus bertakwa ? Karena takwa merupakan kunci kesuksesan hidup seorang muslim disisi Allah swt. Jika dikaitkan dengan surat An-Nisaa’ ayat9 di atas, takwa di sini mengandung dua pengertian. Pertama, bahwa jangan sampai untuk mementingkan kesejahteraan anak-anak, dan dalam mencari rezeki kita menggunakan segala cara, termasuk cara yang diharamkan oleh Allah swt.
Kedua, tugas dan kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya meru- pakan hal yang sangat berat, sehingga kita membutuhkan pertolongan dan kemudahan. Dan ternyata kemudahan dan pertolongan yang kita cari terse- but, terdapat pada ketakwaan yang kita miliki. Semakin kita dekat dan bertakwa kepada Allah, maka pertolongan-Nya akan cepat datang. Namun semakin jauh dan berkurang ketakwaan kita kepada-Nya, maka pertolongan Allah pun akan lambat datang kepada kita.Bukankah Allah swt. telah berjanji dalam Alquran, bahwa “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah nis- caya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”?
(Q.S. Ath-Thalaq : 2-4). Janji Allah swt. ini pasti mutlak kebenarannya.
Kalau sekiranya selama ini belum terwujud, maka kita hendaknya berintros peksi diri, mungkin kita belum sebenar-benarnya bertakwa kepada Allah.
3. Mengucapkan perkataan yang benar
Dalam usaha membentuk generasi yang saleh dan salehah, faktor dominan yang harus nampak ialah faktor keteladanan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Baik itu dari kedua orang tuanya, kakak atau adik, tetangga, juga teman sepermainan di rumah dan di sekolah.
Sering terjadi di sekitar kita, ada anak-anak kecil yang mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak baik dan sopan. Hal ini terjadi karena mereka suka mendengar dari orang-orang dewasa yang ada di lingkungan mereka, bahkan terkadang mereka mendengar dari mulut orang tua mereka sendiri. Oleh karena itu, sebagai orang tua hendaknya kita berhati-hati dalam berbicara. Mari selalu mengucapkan perkataan yang benar, yaitu perkataan yang mengandung manfaat kebajikan, perkataan yang tidak menyakiti hati dan perasaan orang lain, serta perkataan yang mengandung ajakan da’wah atau tausiyah mengajak orang lain melakukan kebenaran dan menghiasi diri dengan kesabaran. Sekali lagi anak adalah amanah. Bagi orang tua, anak adalah permata hati yang tidak ternilai harganya. Dalam bahasa agama, anak adalah qurrata a`yuun, penyedap mata, dan tentunya penenteram jiwa buat kedua orang tuanya. Merupakan kebahagian tersendiri bagi orang tua yang memiliki anak saleh dan taat padanya.

Amanah Orang Tua Mendidik Kebaikan Pada Anaknya

DIKISAHKAN, ada seorang anak yang mempunyai kelakuan tidak baik dan tidak sopan pada tamu-tamu ayahnya. Air minum tamu-tamu ayahnya selalu diacak-acak dan ditumpah-tumpahkan dari gelas. Melihat kelakuan yang janggal ini, sang ayah yang seorang saleh itu bertanya pada istrinya; “Apa yang telah kamu lakukan pada saat kamu mengandung?” 

“Saya tidak melakukan apa-apa,” jawab istrinya. 

“Coba kamu ingat-ingat lagi, apa yang pernah kamu lakukan,” tanya suaminya lagi. 

Istrinya pun lantas memutar memorinya saat mengandung. Rupanya semua berawal dari “ngidam”nya pada buah anggur yang ada di pekarangan tetangganya. “Saat mengandung, saya ngidam anggur tetangga sebelah. Saya tidak berani memintanya. Tanpa sepengetahuan yang punya anggur, sayapun lalu menusuk anggur itu dengan jarum dan saya menjilati jarum yang dialiri air anggur itu,” cerita istrinya. Mendengar cerita ini, sang suami langsung memahami, mengapa anaknya memiliki kelakuan yang tidak biasa.1)

Kisah di atas memberikan makna yang mendalam bagi kita. Jika kita ingin mendapatkan anak yang saleh lagi santun, maka apapun yang dilakukan orang tuanya akan sangat berpengaruh terhadap tingkah lakunya. Jika orang tuanya, misalnya saja, gemar memakan makanan yang tidak halal sebagaimana kisah di atas, maka hal itu akan berdampak buruk karakter anak yang dilahirkannya dan akan menjauhkannya dari jalan Allah Swt. Sebaliknya, makanan yang halal akan menggiring darah dan daging anak senantiasa dekat dengan Allah. Itu sebabnya, upaya menciptakan anak-anak yang saleh tidak bisa dilepaskan dari peran orang tuanya. Atas dasar inilah, makalah sederhana ini dibuat.

Makna Amanah
 
Dalam kitab Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq karangan Hafid Hasan al-Mas’udi, amanah diartikan sebagai menegakkan atau menjalankan hak-hak Allah SWT dan hak-hak hamba-Nya.2) Dengannya, agama menjadi sempurna dan terjaganya harga diri serta terjaganya harta, karena menjalankan hak-hak Allah SWT. Hal ini sama saja dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan menegakkan hak-hak hamba Allah SWT itu sama dengan menyerahkan atau mengembalikan barang-barang titipan, menjauhi menyebarkan atau membuka rahasia dan kejelekan orang lain. Dan memilih untuk dirinya perkara-perkara yang bagus di dalam agama dan dunia.3) 

Dalam Qs. an-Nisa’: 58, Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Allah menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukam di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesunggunya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya padamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang tidak memegang amanah dan tidak sempurna agama bagi orang yang tidak menepati janji.”4)

Menurut al-Mas’udi, kebalikan dari amanah adalah khiyanah atau khianat, yaitu mencederai hak dengan merusak atau mengkhianati janji. Adapun bahaya khianat diantaranya: 

1.    Pelaku khianat tersifati sebagai orang yang khianat. 
2.    Berkurangnya agama.
3.    Hilangnnya budi pekerti
4.    Dibenci Allah SWT dan akan mendapat siksa-Nya, karena ia tidak menjaga perintah-Nya.5) Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu mengkhianati amanah yang diberikan kepada kamu, sedangkan kamu mengetahuinya.” (Qs. al-Anfal: 27)

Dalam hal ini, amanah, orang tua juga memiliki amanah atau tanggungjawan kepada anak-anaknya untuk memberikan bimbingan yang terbaik bagi mereka. Amanah ini dimandatkan berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an di atas. Dan diantara hal penting yang harus diberikan orang tua kepada anak-anaknya, adalah mengajarkan akhlak, menanamkan ketakwaan dan menumbuhkan kecintaan pada buku-buku bacaan.

Mengajarkan Akhlak 
Diantara tugas penting dan pokok orang tua adalah mengajarkan akhlak kepada anak-anaknya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhlak adalah budi pekerti.6) al-Rafi’i menuturkan, seandainya aku diminta untuk merangkum filosofi seluruh ajaran agama Islam dalam dua kata, maka akan aku katakan: “Kukuhkan akhlak!” Seandainya filosof terbesar dunia diminta untuk meringkas solusi bagi seluruh umat manusia dalam dua kata, pastilah ia berkata sama: “Kukuhkan akhlak!” Andaikan ilmuan Eropa berkumpul untuk  mempelajari peradaban Eropa, lalu memutarkan apa yang betul, mereka akan berkata: “Kukuhkan akhlak.” Dan sekarang, marilah kita hiasi diri dan kehidupan kita dengan akhlak yang mulia.7)

Kenapa orang tua perlu mengajarkan akhlak pada anaknya? Karena akhlak merupakan tujuan diutusnya Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”8) Mungkin kita bertanya lagi, apakah sabda ini logis? Benarkah Nabi Muhammad diutus demi menata akhlak? Bacalah Hadis tersebut sekali lagi, lalu renungkanlah. Aku ingin bertanya kepadamu tentang satu hal; “Mengapa Nabi diutus?” Untuk menjawabnya, Allah Swt berfirman: “Dan tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Qs. al-Anbiya’: 107).

Coba kita renungkan ayat di atas. Seandainya kecurangan, tipu daya, penghianatan dan berbagai kejahatan merajalela dalam sebuah masyarakat, apakah mereka akan diliputi rahmat? Bayangkan sebuah keluarga diliputi rasa benci, dengki dan  dendam, maka di manakah rahmat itu berada?

Jelas ada sebuah kolerasi amat erat antara Hadis dan ayat di atas? Ketahuilah, tidak ada rahmat bagi alam semesta kecuali dengan akhlak. Orang terhormat harus mengajarkan kepada anaknya tentang akhlak. Di zaman sekarang yang moderen ini, banyak sekali para pemuda, remaja dan anak-anak yang minim sekali dengan akhlak.

Dalam Kitab Lubab al-Hadith, Imam Jalal al-Din as-Suyuti meriwayatkan Hadis Rasulullah Saw yang berbunyi: “Tidak ada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih utama selain akhlak yang baik.”9)

Semua orang tua menginginkan anaknya mempunyai akhlak atau tata krama yang baik. Orang tua tidak ingin anaknya berakhlak buruk (su’ul adab). Tetapi di zaman sekarang, banyak anak yang berani melawan/membantah kedua orang tuanya. Padahal Allah Swt berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Allah) dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu dan bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya “AH” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Qs. al-Isra’: 23).

Selain itu juga, akhlaklah yang paling berat timbangannya di akhirat kelak. Rasulullah Saw bersapda: “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat timbangannya dari pada akhlak” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).10)

Akhlak adalah nomor satu, karena akhlaklah yang paling berat timbangannya dibanding ibadah yang lain seperti shalat, zakat maupun puasa. Hal ini karena tujuan utama seluruh ibadah adalah memperbaiki akhlak. Kalau tidak, maka ibadah hanya akan menjadi semacam olah raga saja! Allah Swt berfirman: “Dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar”. 

Siapa yang shalatnya tidak berdampak mencegah kelakuannya dari perbuatan keji dan mungkar, berarti shalatnya itu hanya beberapa gerakan olah raga. Ia mengerjakan shalat, tetapi akhlaknya tidak baik. Diriwayatkan, suatu ketika seorang utusan datang kepada Nabi Muhammad Saw. Mereka bertanya: “Wahai Rasullulah, siapa yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Mengajarkan Ketakwaan

Dalam kitab Taysir al-Khallaq dijelaskan, takwa adalah “Patuh pada perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya”.11) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, takwa adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya.12) Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan agama Islam.” (Qs. Ali ‘Imran: 102). Dalam ayat ini dijelaskan, ketakwaan menjadi modal penting bagi umat manusia. Ketakwaan akan menjadi pengontrol manusia dalam menjalani kehidupannya. Untuk itu, tugas orang tua adalah menancapkan akar-akar ketakwaan ini ke dalam hati anak-anaknya.

Perihal urgensi ketakwaan ini, dalam buku Masuk Surga Tanpa Ibadah karya Agus Susanto dikisahkan, bahwa ‘Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang takwa. Berkatalah Ubay kepada ‘Umar. “Pernahkah engkau melewati jalan yang penuh duri?,” tanya Ubay. “Ya, pernah,” jawab ‘Umar. Ubay bertanya lagi; “Apa yang engkau lakukan saat itu?” ‘Umar menjawab; “Saya akan berjalan dengan sungguh-sungguh dan berhati-hati sekali agar tak terkena duri itu.” Lalu Ubay berkata: “Itulah takwa.”13)

Orang tua harus nengajarkan ketakwaan kepada anaknya, dintaranya dengan memintanya menjalankan shalat, puasa, ngaji dan sebagainya, supaya anaknya menjadi anak yang bertakwa. Sayangnya, di zaman sekarang ini banyak orang tua yang sedikit sekali mengajarkan kepada anaknya mengenai ibadah kepada Allah, melainkan malah mengajarkan yang tidak benar kepada anaknya dan membiarkan anaknya melakukan hal-hal yang  tidak baik seperti bermain motor, nongkrong, tawuran dan perbuatan negatif lainnya.

Almarhum Dai Sejuta Umat, KH. Zainuddin MZ pernah bercerita. Seorang ibu yang taat kepada Allah Swt selalu beribadah, sedangkan anaknya selalu bermaksiat, seperti mabuk-mabukan, berzina, dan sebagainya. Oleh ibunya, apa yang dilakukan anaknya tidak pernah dilarang/dicegah dan dibiarkan saja anaknya bermaksiat. Tetapi, ketika di akhirat anaknya yang selalu bermaksiat itu masuk neraka, sedangkan ibunya masuk surga. Ketika anaknya mengetahui bahwa ibunya masuk surga, maka anak tersebut protes kepada Allah Swt. “Ya Allah, kenapa ibu saya masuk surga sedangkan saya masuk neraka?” Lalu ibunya ditanya oleh Allah Swt; “Apakah benar yang ada di neraka itu anak kamu?” Ibunya pun berkata; “Ya. Yang berada di neraka itu anak saya.” Allah Swt bertanya lagi: “Kenapa kamu masuk surga dan anakmu masuk neraka?” Ibunya pun berkata; “Karena saya selama di dunia tidak pernah melarang anak saya bermaksiat dan belum pernah mengajaknya untuk beribadah kepada Allah.” Karena hal ini, orang tuanya lantas  ditarik oleh anaknya ke neraka,14) sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Swt: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu pada hari itu yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat pula menolong bapaknya sedikitpun.” (Qs. Luqman: 33).

Memperkenalkan Buku Pada Anak
Selain mengajarkan akhlak dan ketakwaan, orang tua juga harus memperkenalkan buku yang positif pada anak-anaknya, supaya anak tersebut gemar membaca buku. Allah Swt berfirman; “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.” (Qs. al-‘Alaq: 1). Membaca adalah perintah Allah, yang karenanya mengabaikan membaca sama halnya mengabaikan kewwajiban yang Allah tetapkan.

Membaca buku adalah jantung pendidikan. Membaca buku juga kekuatan utama dalam pendidikan. Lewat membaca, kita memperoleh pengetahuan baru dan informasi, hiburan dan sebagainya. Sejak dulu sampai sekarang, membaca buku dianggap kegiatan yang sangat bermanfaat. Jauh lebih bermanfaat dari pada menonton televisi misalnya. Namun tidak dapat diingkari, kebanyakan anak sekarang lebih memilih menonton televisi dari pada membaca buku. Hal inilah yang membuat kalangan pendidik dn budayawan cemas.

Mary Leanhardt, sebagaimana dikutip oleh Joko D. Muktiono dalam karyanya Aku Cinta Buku mengatakan, “Anak-anak yang gemar membaca buku akan mampu mengembangkan pola berfikir kreatif dalam diri mereka.” Mereka tidak hanya mendengar informasi, tetapi juga belajar untuk mengikuti argumen-argumen yang kaya dan mengingat alur pemikiran yang beragam. Sebuah studi di Amerika Serikat menyebutkan, bahwa anak yang telah dikenalkan kepada buku dan kegiatan membaca memiliki tingkat kemajuan bahasa yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak membaca buku. Anak-anak yang gemar membaca buku akan berbicara, menulis dan memahami gagasan rumit secara lebih baik. Jika anak terbiasa membaca buku, anak akan mampu menyelesaikan pekerjaan sekolah dengan mudah.15)

Menurut Ahmad Sobari, bacaan adalah giji dan suplemen yang bagus buat anak. Dari buku diperoleh “gizi” yang diperlukan anak untuk tumbuhnya kepribadian anak yang sehat. J. Collier mengungkapan dalam kalimat indah berikut; “Seperti diharapkan agar tumbuh kuat dengan selalu makan, diharapkan pula tumbuh semakin bijaksana dengan selalu membaca.”16) Ini menunjukkan pentingnya membaca sebagai alat untuk meningkatkan kebijaksanaan bagi pembacanya.

Adapun langkah-langkah untuk membuat anak suka terhadap buku dan membaca:

1.    Sediakanlah selalu buku-buku di tempat anak-anak bermain.
2.    Membiasakan agar anak gemar membaca buku sejak sedini mungkin.
3.    Ceritakanlah dongeng-dongeng yang telah kita kenal sejak kecil. 
4.    Janganlah bosan jika anak meminta untuk diceritakan atau dibacakan buku yang sama terus-menerus. 
5.    Ceritakan dengan bahasa anak. 
6.    Perankan tiap tokoh dengan baik.
7.    Jangan putus asa jika anak belum menunjukkan perhatian-perhatian terhadap buku atau cerita yang kita baca. 
8.    Perlihatkan gambar-gambar yang penuh warna menarik pada saat membacakan buku.
9.    Janganlah menolak jika anak-anak meminta dibacakan buku atau dengarkan cerita.17) 

Dengan menanamkan hal-hal di atas pada anak, insha Allah orangtua telah menyiapkan anak-anaknya menjadi anak yang berperilaku baik, sesuai tuntunan agama dan adat ketimuran. Kendati hal ini tidak mudah diselenggarakan, orang tua harus terus mengupayakannya, karena hal ini sebagai bentuk tanggungjawab terpenting bagi orang tua kepada anak-anaknya. Wa Allah a’lam.[] 

Cikulur, 11 Oktober 2013 

END NOTES
*)Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 11 Oktober  2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**)Penulis adalah Aktivis Halqah Remaja Triple Ing Community (Triping.Com), Pasukan LKBB Ponpes Qothrotul Falah dan Siswa Kelas X-A SMA Qothrotul Falah.
1)    Kisah ini saya dengar dari salah satu guru di Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Ketika pada Rabu (9/10/2013) malam saya bertanya padanya tentang rujukan kitab kisah ini, beliau hanya menjawab: “Saya juga dari guru saya, guru yang mengajari saya tasawuf. Saya juga tidak tahu dari mana asal atau sumber cerita ini. Yang pasti, nilai hikmah sufistik di dalamnya tidak bisa diabaikan dan sudah semestinya menjadi pelajaran penting bagi kita semuanya.”  
2)    Hafidh Hasan al-Mas’udi, Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq (Surabaya: Maktabah Sa’d bin Nas}ir bin Nabhan, T.Th.), 18. 
3)    Hafidh Hasan al-Mas’udi, Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq, 18.  
4)    Hafidh Hasan al-Mas’udi, Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq, 18.  
5)    Hafidh Hasan al-Mas’udi, Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq, 18-19.  
6)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 20.   
7)    Amr Khaled, Buku Pintar Akhlak (Jakarta: Zaman, 2010), 3. 
8)    Amr Khaled, Buku Pintar Akhlak, 4.  
9)    Jalal al-Din al-Suyuti, Lubab al-Hadith (T.Tp.: T.Th.), 39. 
10)    Amr Khaled, Buku Pintar Akhlak, 17. Hadis serupa juga diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu al-Darda’. Lihat: Ahmad al-Hashimi Beik, Mukhtar al-Ahadith al-Nabawiyyah (Indonesia: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, T.Th.), 145.   
11)    Hafidh Hasan al-Mas’udi, Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq, 3. 
12)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1126. 
13)    Agus Susanto, Masuk Surga Tanpa Ibadah (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2012), 82. 
14)    Penulis mendengar penuturan Kiai Zainuddin ini di Kafe Ponpes Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten. Sayangnya, penulis tidak ingat persis kapan tepatnya rekaman itu penulis dengarkan.  
15)    Joko D. Muktiono, Aku Cinta Buku (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2003), 20-21. 
16)    Joko D. Muktiono, Aku Cinta Buku, 22-23. 
17)    Joko D. Muktiono, Aku Cinta Buku, 30-33.

DAFTAR PUSTAKA
1)    al-Qur’an al-Karim
2)    Agus Susanto. Masuk Surga Tanpa Ibadah. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2012. 
3)    Ahmad al-Hashimi Beik. Mukhtar al-Ahadith al-Nabawiyyah. Indonesia: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, T.Th.   
4)    Amr Khaled. Buku Pintar Akhlak. Jakarta: Zaman, 2010. 
5)    Hafidh Hasan al-Mas’udi. Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq. Surabaya: Maktabah Sa’d bin Nasir bin Nabhan, T.Th.  
6)    Jalal al-Din al-Suyuti. Lubab al-Hadith. T.Tp.: T.Th. 
7)    Joko D. Muktiono. Aku Cinta Buku. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2003. 
8)    Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.   

Rabu, 25 Maret 2015

Jangan Lupakan Ibumu…

Jangan Lupakan Ibumu…
Lagi-lagi tersentuh dan prihatin mendengar kabar pagi ini. Betapa tidak, seorang ibu menangis karena anak laki-laki satu-satunya tidak lagi mengunjunginya, tidak lagi datang padanya, tidak lagi pernah bertanya…”apakah ibu sehat”?.
Semuanya terjadi hanya karena si anak ketahuan berbohong, dan ibu menegurnya. Salahkah seorang ibu menegur anaknya yang sudah dewasa dan beristri? Tentu tidak… si anak hanya lupa. Lupa bahwa ibunya itulah yang dulu telah melahirkan dan membesarkannya. Lupa dengan perjuangan ibu yang penuh cinta telah membesarkannya dan menjadikannya manusia seperti sekarang ini. Lupa bahwa sebelum istrinya hadir, terlebih dahulu ibunyalah yang membelanya dengan segala cinta dan kekuatan… Lupa bahwa sebelum si anak mendapatkan pendidikan yang luar biasa di luar, ibunyalah yang pertama kali memberikan pendidikan padanya. Jika sekarang ibu semakin tua, mungkin juga semakin cerewet, suka bertanya itu itu saja, dan segala perubahan yang terjadi pada si ibu yang membuat kita kadang-kadang bosan bahkan kesal, belum pantas kita meninggalkan ibu dan belum juga akan menghapus segala jasa dan kebaikan ibu dulu.
Ingatlah…Jika ibumu yang semakin tua itu ingin selalu diberi perhatian, ingin selalu dikunjungi anaknya, ingin selalu mendengar sapaan “apa kabar ibu?”…semua hanyalah karena kehangatan dan kenangan masa lalu yang selalu bersamamu sejak kecil. Walau kini anaknya sudah dewasa, seorang ibu akan tetap merasakan kehangatan itu sampai akhir hayatnya. Tidak lebih…ya memang tidak lebih dari itu…
Ingatlah…Jika kita sekarang merasa sedang gagah-gagahnya bisa menaklukkan dunia, jangan pernah lupa, bahwa esok kita akan tua, kesepian dan menjadi seorang ibu atau ayah yang juga selalu menunggu kedatangan anak-anaknya. Kita juga akan menjadi sosok tua yang selalu merindukan kehangatan, kasih sayang, dan sapaan-sapaan yang saat sekarang terdengar membosankan bagi kita. Hidup tidak pernah bisa diprediksi dan Allah maha mengetahui segalanya…
Jangan membuat ibu kita menangis, apalagi meninggalkannya. Allah akan menghitung jumlah tetesan airmata ibu. Jika ingin hidupmu selamat dunia akhirat, sayangilah ibumu, hargailah ibumu, hormatilah ibumu, karena ridho Allah tergantung dari ridho ibumu (orangtuamu)…Semoga kita semua dapat menyayangi orangtua (Ibu) sampai akhir hayatnya…Aamiin.
* Tersentuh dengan peristiwa pagi ini, Paterongan, 26 Maret 2015"

MODUL PEMBELAJARAN IPS KELAS VIII

  Materi: Lembaga Keuangan untuk Kesejahteraan Rakyat A. Identitas Modul Mata Pelajaran : IPS Kelas/Semester : VIII / Genap Materi Pokok : L...