Minggu, 28 Juni 2015




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Pendidikan adalah salah satu penentu keberhasilan seseorang. Bagaimana dia berkata, bersikap dan bermasyarakat menunjukkan tingkat sosial dan pendidikan pribadi tersebut. Melihat pentingnya sebuah arti dari pendidikan perlu kiranya untuk kita umat muslim yang bertugas untuk melestarikan ajaran Islam di muka bumi ini mengerti segala sesuatu tentang pendidikan dengan tujuan menjaga tegaknya dakwah Islam.
Pendidikan meliputi banyak aspek dan materi yang dikaji, salah satunya adalah materi Pendidikan Agama Islam untuk tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas) yang bukan hanya berfungsi sebagai pelengkap kurikulum, akan tetapi lebih pada pemberian dasar pengetahuan agama yang benar sebagai tuntunan hidup manusia.
Usia labil yang dimiliki para remaja usia SMA perlu pengawalan ketat dalam perkembangannya. Tuntutan jaman yang semakin tinggi terkadang membuat para remaja bingung dan kehilangan identitas diri, bangsa dan agamanya. Disinilah arti penting materi PAI, dengan keterbatasan waktu pertemuan dalam memberikan materi guru dipaksa untuk dapat memberikan materi sekaligus teladan bagi siswa-siswi SMA yang rentan pada pengaruh negative lingkungan.
B.     Rumusan masalah
1.      Bagaimana pendalaman materi Al Qur’an Hadits kelas X?
2.      Bagaimana pendalaman materi Al Qur’an Hadits kelas XI?
3.      Bagaimana pendalaman materi Al Qur’an Hadits kelas XII?


BAB II
PEMBAHASAN

KELAS X SEMESTER I
Mata Pelajaran            : Pendidikan Agama Islam
Aspek                          : Al-Quran
Materi Pembelajaran   : 1. Kajian tentang Manusia
2. Al-Qur’an tentang keikhlasan dalam beribadah

1.      AL-QURAN KAJIAN TENTANG MANUSIA
· Standar Kompetensi :
Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi.
· Kompetensi Dasar :
1.1 Membaca Q.S. al-Baqarah Ayat 30, al-Mu’minun Ayat 12–14, az-Zariyat Ayat 56, dan an-Nahl Ayat 78.
1.2 Menyebutkan arti Q.S. al-Baqarah Ayat 30, al-Mu’minun Ayat 12-14, az-Zariyat Ayat 56, dan an-Nahl Ayat 78.
1.3 Menampilkan perilaku sebagai khalifah di bumi seperti terkandung dalam Q.S. al-Baqarah Ayat 30, al-Mu’minun Ayat 12-14, az-Z ariyat Ayat 56, dan an-Nahl Ayat 78.
A.    Surat Al-Baqarah Ayat 30
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
1)      Kandungan Surat Al-Baqarah ayat 30
Ketika Allah swt memberikan kepada para malaikat bahwa dia akan menjadikan Adam as sebagai khalifah di muka bumi maka para malaikat itu bertanya, mengapa Adam as yang akan diangkat di muka bumi? Padahal Adam as keturunannya itu akan berbuat kerusakan dan berbuat pertumpahan darah di muka bumi. Para malaikat menganggap diri mereka lebih pantas untuk memangku jabatan tersebut, sebab mereka adalah makhluk yang selalu bertasbih memuji dan mensucikan Allah swt. Selanjutnya, Allah swt tidak membenarkan anggapan para malaikat itu, dan Dia menjawab bahwa Dia mengetahui semua yang tidak diketahui malaikat. Semua yang akan dilakukan Allah swt adalah berdasarkan pengetahuan dan nikmat-Nya Yang Maha Tinggi, walaupun tidak dapat diketahui oleh mereka, termasuk pengangkatandam as menjadi khalifah di muka bumi.
Yang dimaksud dengan khalifah Adam as di muka bumi adalah kedudukannya sebagai pengatur atau wakil Allah swt di bumi, yakni untuk melaksanakan perintah-Nya, memakmurkan bumi, serta memanfaatkan segala apa yang ada di bumi.
2)      Perilaku yang menunjukan Cerminan Surat Al-Baqarah ayat 30
Khalifah adalah seseorang yang dijadikan pengganti dari yang lain seseorang yang diberi wewenang untuk bertindak dan berbuat sesuai dengan ketentuan dari yang member wewenang. Sesudah Rasulullah wafat, para pengganti beliau sebagai kepala Negara dan pemimpin agama disebut khalifah. Allah swt menjadikan manusia dibekali dengan potensi rohani dan akal. Dengan potensinya itulah manusia mempunyai kebebasan berinisiatif, mampu memahami, mencerna, serta mengolah gagasan dan ilmu yang merupakan keistimewaannya disbanding dengan makhluk yang lain.
Menurut Syeikh Muhammad Abduh, meski manusia itu mempunyai kelemahan dan keterbatasan, namun Allah swt memberikan keunggulan potensi rohani dan akal yang mampu menundukan seluruh kekuatan alam yang ada. Dengan akalnya, gagasan, kreativitas dan ilmu, maka karya manusia menjadi tidak terbatas. Sebagai contoh, ditemukannya sumber air tawar di kedalaman laut oleh Mr. Jacques Yues Costeau, seorang penyelam ulung dari Perancis. Dalam air tawar yang menyejukkan dan menyegarkan itu tidak tercampur oleh air laut yang asin lagi pahit itu, yang seakan-akan antara air tawar dan air laut itu ada dinding pemisah atau membrane yang tak dapat ditembus oleh pandangan mata.
Itulah wewenang Allah swt. Manusia sebagai penemu atau penggaliyang dibekali dengan potensi harus tunduk kepada yang member wewenang. Oleh karena itu, Allah swt mengajarkan konsep-konsep kebenaran kepada manusia dalam penciptaan-Nya, sebagaimana kejadian di atas. Firman Allah swt dalam Al-Quran surat Ar-Rahman ayat 19-20 dan surat Al-Furqan ayat 53 menggambarkan kebenaran tersebut yang isinya senada, “Dan Dialah yang membiarkan dua lautan mengalir (berdampinghan) yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit, dan Dia jadikan antarkeduanya dindingdan batas yang menghalangi”
Meski demikian, tugas khalifah tidak hanya bertumpu pada hal yang bersifat intelektual belaka, tetapi juga moral. Kekuasaan manusia di muka bumi tidaklah mutlak ia dibatasi oleh hukum-hukum Allah swt yang akan dipertanggungjawabkan kelak dihadapan-Nya.
Syarat menjadi Pemimpin
Para ulama menyebutkan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin atau khalifah, seperti berikut ini :
1)      Berpengetahuan, yang memungkinkan untuk bertindak sebagai hakim terhadap rakyatnya dengan cara yang adil.
2)      Tidak memiliki cacat jasmani.
3)      Bertanggung jawab, teguh, kuat untuk menjalankan pemerintahan, memajukan Negara dan agama serta mampu membela keduanya dari segala ancaman musuh.
4)      Kewajiban Pemimpin (khalifah)
5)      Membela negara dan agama, serta menjalankan syariat agama dengan baik dan benar.
6)      Menjaga keamanan dan ketentraman umum agar kehidupan segenap rakyatnya terjamin.
7)      Bermusyawarah dengan wakil-wakil rakyat dalam setiap urusannya, terutama hal-hal yang mengenai urusan kenegaraan.
8)      Mengatur perekonomian Negara menurut syariat yang ditentukan seperti mengatur perdagangan, pertanian, perindustrian, dan sebagainya.
9)      Mengangkat para pembantu khalifah (mentri) sesuai dengan keahliannya masing-masing
Surat Al-Mu’minuun ayat 12-14
“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik”.

Kandungan Surat Al-Mukminun ayat 12-14
Pada surat Al-Mukminin ayat 12-14, Allah swt menerangkan penciptaan perkembangan kejadian manusia, agar manusia menyadari betapa besar nikmat dan karunia Allah yang telah dilimpahkan kepada manusia sejak dahulu kala hingga sekarang. Mensyukuri nikmat lijaad dan nikmat imaad, yaitu nikmat yang asal tidak ada dan nikmat kelangsungan hidupnya hingga sekarang dan dimasa yang akan datang.
Seseungguhnya Allah telah menciptakan manusia dari suatu saripati tanah. Segolongan ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksud manusia ialah keturunan Adam yang berasal dari air mani. Apabila diadakan penelitian dengan saksama maka air mani itu berasal dari tanah setelah melalui beberapa proses perkembangan. Makanan yang merupakan hasil bumi, yang dimakan oleh manusia, dalam alat pencernaannya berubah menjadi cairan yang bercampur dengan darah yang menyalurkan zat-zat makanan dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Allah swt menempatkan saripati air mani itu dalam tulang rusuk sang suami. Dalam hubungan suami istri (persetubuhan) air mani itu ditumpahkan kedalam rahim istrinya, suatu tempat penyimpanan yang kokoh bagi janin sampai saat kelahirannya.
Allah swt mengembangkan air mani itu dalam beberapa minggu hingga menjadi darah, menjadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu ada bagian dalamnya yang dijadikan tulang belulang. Kemudian, tulang itu dibungkus daging, laksana pemakaian penutup tubuh. Berikutnya, Allah menjadikan makhluk yang (berbentuk) lain, setelah ditiupkan Roh kedalamnya, sehingga menjadi manusia yang sempurna.
Proses perkembangan kejadian manusia di dalam rahim dapat dijelaskan dengan urutan sebagai berikut:
Dari saripati tanah Allah menjadikan nuthfah (sperma) yang bertemu dengan sel telur dalam rahim wanita.
a.       Nuthfah bertemu dengan sel telur, Allah jadikan alaqoh, yang berbentuk segumpal darah.
b.      selama 40 hari, alaqoh ini akan berubah menjadi mudhqoh yang berbentuk segumpal daging.
c.       dari mudhqoh dalam waktu 40 hari, Allah jadikan izham yang berupa tulang belulang.
d.      dari tulang rangka, selama 40 hari akan dibalut dengan daging.
e.       selanjutnya dalam waktu 120 hari Allah menjadikan makhluk lain dalam bentuk manusia. Dalam waktu 120 hari inilah, Allah meniupkan roh ke dalam janin manusia tersebut dan Allah menentukan tiga perkara yaitu nasib, jodoh, dan umur.
2.      AL-QURAN TENTANG KEIKHLASAN BERIBADAH
· Standar Kompetensi :
2. Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang keikhlasan dalam beribadah
· Kompetensi Dasar :
2.1 Membaca Q.S. al-An‘am Ayat 162–163 dan al-Bayyinah Ayat 5
2.2 Menyebutkan arti Q.S al-An‘am Ayat 162-163 dan al-Bayyinah Ayat 5
2.3 Menampilkan perilaku ikhlas dalam beribadah seperti terkandungdalam Q.S. al-An‘am Ayat 162-163 dan al-Bayyinah Ayat 5
A.    Surat al-An‘am Ayat 162–163
Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".
1.      Kandungan Surat Al An’am ayat 162-163
Pada ayat ini Nabi Muhammad saw diperintahkan supaya mengatakan bahwa sesungguhnya sembahyang, ibadah, serta semua pekerjaan yang dilakukannya, hidup dan matinya adalah semata-semata untuk Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadanya, dan dia adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah swt dalam mengikuti dan mematuhi semua perintah dan larangan-Nya. Dua ayat ini mengandung ajaran yang diajarkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw yang harus disampaikan kepada umatnya, bagaimana seharusnya cara hidup seorang muslim di dunia yang fana ini. Semua ibadah shalat dan ibadah yang lainnya harus dilaksanakan dengan sepenuh hati karena Allah swt, ikhlas dalam semua pekerjaan, tanpa adanya suatu pamrih. Seorang muslim harus percaya kepada kodrat dan kehendak Tuhan. Tuhanlah yang menentukan hidup dan matinya seseorang.
Ayat ini selalu dibaca dalam salat, yaitu sesudah takbiratul ihram sebagai doa iftitah. Pada surat Al An’am 162-163 tersebut, Allah swt menerangkan tentang pentingnya ikhlas dalam menjalankan suatu amal perbuatan. Ikhlas merupakan kunci utama dalam mengerjakan segala amal ibadah. Amal ibadah yang tidak didasari dengan niat yang ikhlas, maka amal ibadah itu tidak akan diterima di sisi Allah swt.
2.      Cerminan Isi Surat Al-An’am ayat 162-163
Ada sebuah kisah tentang perkara keikhlasan dalam beribadah. Di suatu tempat terdapat seorang Bani Israil yang rajin beribadah. Kemudian datanglah orang-orang kepadanya. Mereka berkata, “Di kota ini ada sebagian kelompok orang yang menyembah kepada pohon”. Mendengar berita ini, orang alim tadi marah. Kemudian dia pergi hendak menebang pohon tersebut, tetapi ditengah jalan iblis menghalang-halangi niatnya, dengan menjelma sebagai orang tua. Iblis itu berusaha sekuat tenaga untuk merayunya dengan iming-iming bahwa orang tersebut setiap harinya akan diberi uang dua dinar. Ternyata apa yang dikatakan iblis itu benar, setiap hari didapatinya dua dinar di rumahnya. Namun, kejadian itu berlangsung beberapa saat saja.
Pada hari keempat dan seterusnya tidak didapati lagi uang dinar tersebut. Kemudian, orang itu mengambil kapak hendak , menebang pohon tersebut. Namun, iblis menyambutnya dan mengatakan kepada orang alim tadi,“bahwa engkau tidak akan mampu menebang pohon itu, jika engkau tetap menebang pohon itu maka aku akan membunuhmu”. Ternyata orang alim itu tidak berdaya menebang pohon tersebut, lantaran niatnya yang sudah tidak didasari dengan keikhlasan, melainkan didasari oleh pamrih dinar (duniawi).


KELAS X SEMESTER II

Mata Pelajaran            : Pendidikan Agama Islam
Aspek                          : Al-Quran
Materi Pembelajaran   : Kajian tentang Demokrasi

AL-QURAN KAJIAN TENTANG DEMOKRASI
· Standar Kompetensi :
Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang demokrasi.
· Kompetensi Dasar :
7.1 Membaca Q.S. Ali‘Imran Ayat159 dan asy-Syura Ayat 38.
7.2 Menyebutkan arti Q.S. Ali‘Imran Ayat159 dan asy-Syura Ayat 38.
7.3 Menampilkan perilaku hidup demokratis seperti terkandung dalam Q.S. Ali‘Imran Ayat159 dan asy-Syura Ayat 38.
A.    Surat Ali Imran Ayat 159
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.[1]
1.      Menyimpulkan Kandungan Surat Ali Imran ayat 159
Ayat-ayat tersebut di atas diturunkan berkaitan dengan musyawarah. Musyawarah merupakan suatu kebiasaan Nabi Muhammad saw. Beliau selalu bermusyawarah dengan para sahabatnya, dalam menentukan strategi perang.
Menjelang perang uhud, Nabi Muhammad saw bermusyawarah dengan sahabatnya, mereka dimintai pendapat mengenai cara menghadapi musuh. Ketika itu musuh sedang menuju kota Madinah untuk menggempur kaum muslimin. Namun, Nabi Muhammad saw sendiri sebenarnya cenderung untuk tetap bertahan di dalam kota. Akhirnya, Nabi Muhammad saw mengikuti pendapat mayoritas sahabat. Ternyata strategi itu menyebabkan 70 sahabat gugur. Kekalahan dalam perang ini disebabkan ada beberapa sahabat yang melakukan kesalahan. Meski demikian, Nabi Muhammad saw tidak menyesal, tidak marah, dan tetap bersikap lemah lembut terhadap mereka, dan memperlakukan mereka dengan baik. Ini semua dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, karena rahmat Allah swt yang ditunkan ke dalam hatinya. Nabi Muhammad saw dibekali dengan akhlak-akhlak yang luhur, sehingga dengan adanya musibah kekelahan perang yang dialaminya, Nabi Muhammad saw merasa sangat mudah mengatasinya dan ringan dalam merasakannya.
Sudah seharusnya kaum muslimin menempuh jalan musyawarah apabila menghadapi persoalan dimasyarakat. Selagi mereka mau berperang pada sistem musyawarah, insya Allah akan selamat dan membawa kemaslahatan umat. Oleh sebab itu, Allah swt memerintahkan kepada nabi-Nya agar memantapkan peraturan itu dan mempraktikannya dengan cara yang baik.
Dalam bermusyarah kadang terjadi saling pendapat, apalagi jika dilakukan dengan dilibatkan orang banyak, pastilah hal itu akan terjadi. Untuk itu, yang perlu diperhatikan adalah bersikap tenang dan hati-hati. Perhatikan setiap pendapat, satukan pendapat yang satu dengan yang lain, kemudian ambil pendapat yang banyak memberi manfaat dan faedah bagi kepentingan umum.
Pada zaman Nabi Muhammad saw, beliau selalu mengajarkan kepada kaum muslimin untuk selalu bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam menghadapi masalah-masalah penting. Hal ini beliau lakukan karena Allah swt telah menurunkan wahyu tentang musyawarah. Oleh karena itu,
B.     Surat Asy-Syura Ayat 38
“dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”.


KELAS XI SEMESTER I

Mata Pelajaran            : Pendidikan Agama Islam
Aspek                          : Al-Quran
Materi Pembelajaran   : 1. Perintah untuk Berlomba dan Mencari Kebaikan
2. Menyantuni Kaum Duafa dan Ajaran kebaikan

1.      Perintah untuk Berlomba dan Mencari Kebaikan
· Standar Kompetensi :
Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang kompetisi dalam kebaikan
· Kompetensi Dasar :
1.1 Membaca Q.S. al-Baqarah Ayat 148 dan F-aatir Ayat 32.
1.2 Menjelaskan arti Q.S. al-Baqarah Ayat 148 dan F-aatir Ayat 32.
1.3 Menampilkan perilaku berkompetisi dalam kebaikan seperti terkandung dalam Q.S. al-Baqarah Ayat 148 dan F-aatir Ayat 32.

A.    Surat al-Baqarah Ayat 148
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Isi Kandungan Surat al-Baqarah Ayat 148
Perintah Allah SWT. “Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan” adalah mencakup pemahaman, bahwa berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan merupakan suatu ajakan kepada orang lain untuk senantiasa melakukan dan menempuh jalan yang di ridhai Allah SWT. Dalam hal ini dapat disebut sebagai kegiatan dakwah.
Bagi umat islam di dalam berdakwah telah memiliki arah yang jelas dalam mencapai misi, yaitu mengupayakan kemaslahatan ummat. Apabila kemaslahatan tidak dapat dilaksanakan secara individu, maka hendaknya diusahakanoleh orang-orang yangmampu profesional dan proporsional pada bidang dan keahliannya.

B.     Surat Faatir Ayat 32
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar. Yang dimaksud dengan orang yang Menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya, dan pertengahan ialah orang-orang yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang kebaikannya Amat banyak dan Amat jarang berbuat kesalahan”.
Kandungan Al-Quran Surat Fatir Ayat 32
Al-Quran Surat Fatir menjelaskan bahwa Allah SWT. telah menurunkan wahyu AlQuran kepada Rasulullah SAW. Dan kemudian Ilmu dan Pengetahuan dalam Al-Quran itu diwariskan kepada hamba-hamba pilihan Allah SWT. yaitu Muhammad SAW. (umat islam).
Beberapa tingkatan orang beriman di dalam mengamalkan Al-Quran, yaitu:
a.       Zalimun Linafsihi, artinya ialah orang-orang yang zalim/aniaya terhadap dirinya sendiri. Yaitu mereka yang yang tidak mengerjakan perbuatan wajib dalam agama, tetapi mereka juga tidak meninggalkan perbuatan yang dilarang atau diharamkan oleh Allah SWT.
b.      Al-Muqtasid artinya sederhana, yaitu orang-orang melaksanakan perbuatan yang diwajibkan oleh agama, tetapi mereka masih suka melakukan perbuatan maksiat.
c.       Sabiqun Bil khairat, artinya mereka yang unggul dalam berbuat kebaikan, yaitu orang-orang yang selalu mengerjakan perbuata-perbuatan wajib dan sunnah, serta mereka mampu meninggalkan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.
Ciri-ciri orang yang termasuk sebagai pewaris Al-Quran, antara lain:
a.       Mendengarkan Al-Quran ketika dibaca.
b.      Senang membaca Al-Quran.
c.       Mentadabburi dan mengamalkan Al-Quran.
d.      Mengajarkan dan menyebarluaskan Al-Quran, mulai dari keluarga terdekat dan orang lain.

2.      Menyantuni Kaum Duafa dan Ajaran kebaikan
· Standar Kompetensi :
2. Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang perintah menyantuni kaum lemah
· Kompetensi Dasar :
2.1 Membaca Q.S. al-Isra’ Ayat 26-27 dan al-Baqarah Ayat 177
2.2 Menjelaskan arti Q.S. al-Isra’ Ayat 26-27 dan al-Baqarah Ayat 177
2.3 Menampilkan perilaku menyantuni kaum lemah seperti terkandungdalam Q.S. al-Isra’ Ayat 26-27 dan al-Baqarah Ayat 177
A.    Surat al-Isra’ Ayat 26-27
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.

Kandungan Al-Quran Surat al-Isra’ Ayat 26-27
1.      Dalam setiap harta yang dimiliki oleh seseorang sebenarnya ada hak orang lain, sebab harta yang dimilkinya merupakan hasil dari pada bantuan orang lain.
2.      Mengenai distribusi penberian hak, hendaknya didahulukan kepada kaum kerabat dekat, kemudian baru kepada orang-orang miskinserta orang-orang yang membutuhkan, yaitu para musafir dan ibnu sabil.
3.      Memberi sesuatu kepada orang lain adalah merupakan perbuatan terpuji dan sangat mulia karena dapat meringankan beban dan penderitaan orang lain.
4.      Suka menghambur-hamburkan harta benda sangat dicela oleh Allah SWT., karena hal demikian menyebabkan manusia diperbudak oleh keinginan hawasafsu belaka yang meeupakan tipu daya setan yang menyesatkan dan setan adalah musuh manusia yang nyata.
B.     Surat al-Baqarah Ayat 177
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”.

Kandungan Al-Quran Surat al-Baqarah Ayat 177
Kebajikan di dalam QS. Al-Baqarah yaitu bagi orang-orang yang meyakini terhadap adanya allah hari kiamat dan kehidupan akhirat, terhadap para malaikatnya, kitab-kitab, nabi dan rasulnya, serta mau memberikan harta yang dicintainya kepada yang memnbutuhkannya, yaitu bagi mereka yang ekonominya tidak mampu.

Diatara perbuatan baik dan terpuji tersebut ialah:
1.      Memberikan harta yang dicintai kepada kerabat dekat yang membutuhkannya, artinya keluarga dekat yang kurang mampu ekonominya.
2.       Memberikan bantuan kepada anak-anak yatim, karenamereka membutuhkan pertolongan dan perhatian, perlindungan dan lainnya termasuk pendidikan dan kasih sayang.
3.      Memberikan sebagian hata kepada musafir yang kehabisan bekal untuk melanjutkan perjalanannya agar mereka tidak terlantar di perjalanannya.
4.      Memberikan harta kepada para peminta serta untuk memerdekan Budak (hamba sahaya)
5.      Melaksanakan ibadah sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah SWT., dengan mengharapkan ridha Allah SWT.
6.      Memberikan Zakat kepada yang berhak menerimanya.
7.      Menepati janji ketikan\berjanji, karena janji yang tidak ditepati merupakan htang yang harus dibayar, jika tidak dibayar hingga ia meninggal, maka akan tetap ditagih/ diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Nilai amal shaleh sangat erta kaitannya dengan iman. Amal yang tidak didasari iman karena Allah maka tidak akan dapat menebus dosa walau sebesar apapun, sehingga perbuatn baik tidak mendapat imbalan pahala dari Allah SWT., hanyalah sia-sia belaka amal yang dilakukannya.
Diantara orang-orang yang amal kebaikannya hanya akan sia-sia belaka dan tidak mendapatkan pahala di sisi Allah ialah :
1.      Orang yang meninggal dunia dalam keadaan kafir.
2.      Orang-orang yang menyekutukan Allah SWT (musyrik)
3.      Bagi orang yang kafir dan musyrik selain amal kebaikannya sia-sia, di akhirat kelak akan diberi adzab oleh Allah SWT., dengan adzab yang pedih.


KELAS XI SEMESTER II

Mata Pelajaran            : Pendidikan Agama Islam
Aspek                          : Al-Quran
Materi Pembelajaran   : Menjaga Kelestarian Lingkungan Hidup

Menjaga Kelestarian Lingkungan Hidup
· Standar Kompetensi :
Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang perintah menjaga kelestarianlingkungan hidup
· Kompetensi Dasar :
7.1 Membaca Q.S ar-Rum Ayat 41-42, al-A‘raf Ayat 56-58, dan Sad Ayat 27
7.2 Menyebutkan arti Q.S. ar-Ruum Ayat 41-42, al-A‘raf Ayat 56-58, dan Saad Ayat27
7.3 Menampilkan perilaku menjaga lingkungan hidup seperti terkandung dalam Q.S. ar-Rum Ayat 41-42, al-A‘raf Ayat 56-58, dan SAad Ayat 27
A.    Surat ar-Rum Ayat 41-42
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)."
Kandungan Surat Ar-Rum ayat 41-42
Menjelaskan bahwa kerusakan yang nampak di muka bumi ini diakibatka oleh ulah manusia sendiri dan akan dirasakan akibatnya oleh manusia sendiri, baik kerusakan berupa material dan spiritual.Hak ini sebagai cobaan bagi mereka agar sadar dan kembali menuju jalan Allah SWT.
Kerusakan yang dilakukan oleh manusia di muka bumi ini,mulai dimensi tauhid dan lingkungan inilah yang menyebabkan nilai-nilai keberkahan yang di anugrahkan Allah swt. Kepada manusia, oleh karena itu pada ayat selanjutnya Allah swt. Mengingatkan kepada kita tentang realita kehidupan masyarakat di masa lalu diman setelah mereka berbuat kerusakan lalu mereka berbuat musyrik kepada Allah.

B.     Surat al-A‘raf Ayat 56-58
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.
Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur”.

Kandungan Surat Al-A’raf ayat 56-58
1.      Allah swt melarang manusia membuat kerusakan hutan di muka bumi, kerusakan yang dilakukan oleh seorang manusia setelah ia menjaganya merupakan hal yang dilarang. Oleh karena itu jika seseorang melakukan hal kerusakan maka Allah swt memerintahkan untuk diperintahkan dengan cara yang baik. Allah swt juga memerintahkan untuk beribadah, berdo’a dan tunduk kepada perintahnya dan menjauhi larangannya.
2.      Ketika Allah swt mengemukakan bahwa didrinya yang menciptakan langit dan bumi dan yang mengaturnya, dia yang maha berkehendak maha kuasa dan maha pemberi rizki. Keberadaan hujan yang muncul dari awan yang dibawa melalui angin lalu turun hujan ke daerah yang tandus yang menumbuhkan segala macam tanaman, merupakan bukti kekuasan Allah.
3.      Selanjutnya untuk membedakan orang mukmin dan orang kafir, Allah swt mengumpamakannya derngan perbandingan sebidang tanah yang baik dan tanah yang buruk. Perumpamaan hidayah Allah pada hambanya (sebagaimana rasul diutus untuk menyampaikannya) adalah seperti hujan yang lebat dimana sebagian airnya menimpa sebidang tanah yang subur dan dapat menyimpan air, lalu dari tanah itu tumbuh banyak tanaman, yang dapat menampung air yang dapat dimanfaatkan manusia untuk minum dan bercocok tanam. Sementara sebagian air yang lainnya menimpa sebuah lubang yang tidak dapat menahan air dan menumbuhkan tanaman. Hal ini bagaikan orang pandai yang mengerti permasalahan keagamaan mengkajinya lalu mengamalkannya, sementara disisi lain terdapat seseorang yang tidak dapat melakukan hal-hal yang di atas bahkan tidak mau mengajarkan ajaran agama tersebut
C.    Surat Sad Ayat 27
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka”.

Kandungan Surat Shad ayat 27
1.      Allah swt tidak menciptakan satu makhluknya dengan sis-sia. Ia menciptakan makhluk tersebut agar mereka beribadah dan mengesakannya. Ketika hari akhirat tiba, Allah akan mengumpulkannya di suatu tempat yang disebut padang mahsyar dimana orang-orang yang taat akan mendapatkan pahala dan masuk surge sementara orang kafir akan disiksa didalam api neraka.
2.      Kemudian karena sifat adil dan bijaksananya Allah swt menjelaskan perbedaan antar orang mukmin dan orang kafir, menurutnya antara orang kafir dan orang mukmin tidak sama untuk membedakannya diperlukan hari akhirat sebagai bukti bahwa orang yang taat akan mendapat pahala dan orang yang berbuat maksiat akan mendapat siksa.


KELAS XII SEMESTER I

Mata Pelajaran            : Pendidikan Agama Islam
Aspek                          : Al-Quran
Materi Pembelajaran   :

TIDAK ADA TOLERANSI DALAM KEIMANAN DAN PERIBADAHAN
· Standar Kompetensi :
Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang anjuran bertoleransi
· Kompetensi Dasar :
1.1 Membaca Q.S. al-Kafirun Ayat 1-6, Yunus Ayat 40-41, dan al-Kahf Ayat 29
1.2 Menjelaskan arti Q.S. al-Kafir un Ayat 1-6, Yunus Ayat 40-41, dan al-Kahf Ayat 29
1.3 Menampilkan Perilaku bertoleransi seperti terkandung dalam Q.S. al-Kafirun Ayat 1-6, Yunus Ayat 40-41, dan al-Kahf Ayat 29
A.    Surat Al-Kafirun ayat 1-6
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."

Kesimpulan Ayat Di atas
1.      Penegasan bahwa Tuhan yang disembah (ma’bud) oleh nabi Muhammad SAW dan umat islam berbeda dengan ma’bud orang-orang kafir (kaum musyirikin yang mengingkari keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW). Demikian juga cara peribadahan Nabi Muhammad dan umat Islam yang hanya berdasarkan keikhlasan dan ketulusaan hari dan bersih dari sikap prilaku terhadap Allah SWT, berbeda dengan cara peribadahan orang-orang kafir (musyirikin )
2.      Penolakan dari Nabi Muhammad SAW dan umat Islam terhadap kaum kafir untuk mencampuradukan keimanan dan peribadahan yang diajarkan Islam dengan keiamanan dan peribadahan yang diajarakan agama kaum kafir yang mengandung kemusyrikan
3.      Dalam menyingkapi perbedaan keimanan dan peribadahan itu, umat Islam dan kaum kafir hendaknya bebas beragama dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya dan tidak boleh saling mengganggu. Islam melarang memaksa orang lan untuk menganut sesuatu agama, sesuai dengan surat al-baqarah ayat 256)
Penjelasan
Surat Al-kafirun ini termasuk surah Makiyyah atau yang diturunkan di Mekah, sebelum Nabi SAW berhijrah ke Madinah. Al-Kafirun artinya orang-orang kafir. Surah ini dinamakan surah Al-Kafirun, karena tema pokonya menjelaskan sikap Nabi SAW dan uma Islam terhadap orang-orang kafir, sebagaimana asbabul nuzulnya di bawa ini:
Ada beberapa tokoh kaum kafir (kaum musyrikin) di Mekah seperti Al-Walid bin Al-Mugirah, Aswad bn Abdul Muttalib dan Umayyah bin Khalaf, datang kepada Nabi Muhammad SAW menawarkan kompromi yang menyangkut pelaksanaan peribadahan. Mereka mengusulkan, agar Nabi SAW dan umat Islam mengikuti kepercayaan mereka dan mereka pun akan mengikuti agama Islam. Mereka berkata , “Wahai Muhammad, bagaimana jika kami menyambah Tuhanmu selama setahun dan kamu juga menyembah uhan kami selama setahun. Jiak agamamu benar, benar, kamu juga tentu memperoleh keuntungan,” mendengar usul kaum kafir itu Rasulullah SAW dengan tegas manjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak tergolong orang-orang yang bersikap dan berprilaku syirik atau menyetukukan Allah.”
Untuk mempertegas penolakan Rasulullah SAW tersebut, kemudian Allah SWT menurunkan Surah Al-Kafirun. Setelah Rasulullah SAW menerima Suarah Al-Kafirun ini, lalu beliau mendatangi tokoh-tokoh kaum kafir (musyirikin) Mekah, yang waktu itu sedang berkumpul di Masjidil Haram. Dihadapan mereka Rasululllah membacakan Surah Al-Kafirun: 1-6 dengan mantap dan lantang, sehingga mereka menyadari bahwa usul mereka untuk berkompromi dalam keimanan dan ibadah agama, ditolak oleh Rasulullah SAW dan umat Islam.

B.     Surat Yunus ayat 40-41
40. di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.
41. jika mereka mendustakan kamu, Maka Katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan".

Kesimpulan
Kesimpulan isi atau kandungan Surah Yunus: 40-41 adalah:
1.      umat manusia yang hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah SWT yang terakhir, terbagi menjadi dua golongan : ada golongan umat manusia yang beriman terhadap kebenaran kerasulannya dan kitab suci yang disampaikan (Al-Quran) dan ada pula golongan yang mendustakan kebenaran kerasulannya Nabi Muhammad SAW dan tidak beriman kepada Al-Quran.
2.      Allah SWT Maha Mengetahui sikap dan perilaku orang-orang beriman yang selama hidupnya di dunia senantiaa bertakwa kepada-Nya . Allah SWT pun maha mengetahui terhadap sikap dan prilaku orang-orang yang tidak beriman(kaum kafir) yang senatiasa berbuat durhaka kepada Allah SWT dan banyak berbuat kerusakan di muka bumi.
Kepada orang-orang beriman dan betul-betul bertakwa tentu Allah SWT akan memberikan haknya yaitu surga. Kepada orang-orang yang tidak beriman dan mendustkan kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW juga banyak berbuat kejahatan di muka bumi, tentu Allah SWt akan memberikan hakny a pula, yakni di campakkan kedalam neraka (lihat Q.S. Al-Baqarah, 2: 24-25)
Dalam menghadapi orang-orang yang tidak beriamn kepada Al-Quran dan mendustakan kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW, orang-orang beriman (umat Islam) harus berpendirian teg uh dan yakni bahwa Nabi Muhammad SW berul-betul Rasul Allah SWT yang terakhir dan Al-Quran merupakan kitab suci yang berisi firman-firman Allah SWT yang di wahyukan kepada nabi Muhammad SAW, yang harus dijadikan pedoman hidup umat manusia sampai akhir jamna. Selain itu, umat Islam harus menyadari behawa setiap amal perbuatan manusia baik ataupun buruk, akibatnya akan menimpa orang-orang yang melakukannya. Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, tetapi masing-masing orang akan memikul dosanya sendiri-sendiri (lihat Q.S. Saba, 34: 25 dan Al-Isra, 17: 15)

C.    Surat Al-Kahfi ayat 29
29. dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

Kesimpulan
Kesimpulan isi atau kandungan Suarah Al-Kahfi 29 itu adalah:
1.      Kebenaran itu datangnya dari Allah SWT, sadangakan salah datangnya dari selain Allah SWT
2.      Manusia baik segala individu maupun kelompok, memiliki kebebasan penuh untuk menentukan pilihan terhadap agama yang akan dianutnya.
3.      Manusia yang memilih agama yang salah yakni yang tidak berasal dari Allah SWT dan mengandung unsur menyekutukan Allah dianggap zalim sedangkan balasan bagi orang zalim adalah neraka.
Penjelasan
Kebebasan memili agama selain tercantum dalm Surah Al-Kahfi: 29, juga terdapat dalam Surah Al-Baqarah, 2: 256 dan Surah Yunus, 10: 99 ( coba kamu cari dan pelajari kedua ayat Al-Quran tersebut).
Kebebasan memilih agama merupakan Hak Asasi Manusia. Hal ini tecantum dalam piagam PBB tentang Hak-hak Asasi Manusia yang biasa disebut “The Universal Declaration of Human Rights” pasal 18, juga tercantum dalam Deklarasi Kairo tentang Hak-hak Asasi Manusia pasal 10. Selain itu dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 tentang Hak-hak Asasi Manusia, Bab III pasal 22.
Ajaran Islam yang melarang penganutnya memaksa orang lain masuk isla, hendaknya dapat memberikan dorongan kepada umat islam untuk bersikap toleran terhadap umat-umat non-Islam, sehingga kerukunan hidup antar umat beragana dapat terwujud.
Berbahagialah umat manusia yang beriman dan mengamalkannya ajaran agama Islam karena Insya Allah mereka akan memperoleh rida dan rahmat Allah serta kebaikab=kebakan yang banyak di dunia dan akhirat (lihat Q,S. Al-Baqarah, 2:25). Tetapi sungguh merugi dan celaka orang-orang zalim, yakni mendurhakai Allah dan rasul-Nya karena mereka akan mendapat murka Allah SWT dan mengalami kerugian di dunia dan akhirat (Q.S. Al-Jinn, 72:23)


KELAS XII SEMESTER II

Mata Pelajaran            : Pendidikan Agama Islam
Aspek                          : Al-Quran
Materi Pembelajaran :

Perkembangan IPTEK dalam Al-Quran
· Standar Kompetensi :
Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang pengembangan IPTEK
· Kompetensi Dasar :
7.1 Membaca Q.S. Yunus Ayat 101 dan al-Baqarah Ayat 164
7.2 Menyebutkan arti Q.S. Yunus Ayat 101 dan al-Baqarah Ayat 164
7.3 Menampilkan perilaku mengembangkan IPTEK seperti Terkandungdalam Q.S.Yunus Ayat 101 dan al-Baqarah Ayat 164

A.    Surat yunus ayat 101
Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".

Penjelasan dan keismpulan
al-Quran bukanlah buku ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi Al-Quran adalah himpunan firman Allah, sebagai pedoman hidup bagi uamt manusia agar mereka memperoleh kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Meskipun Al-Quran bukan buku iptek. Hal ini dimaksudkan agar umat manusia mengadakan pengkajian. Penelitian dan pengamatan tentang iptek untuk kesejahterran umat manusia.
ayat yang berkaitan dengan iptek selain surah yunus, 10: 101, juga surah Ar-Rahman, 55: 33 yang artinya: “hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya selain dengan kekuatan.”sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “tuntutlah ilmu walau ke negeri China sekalipun”.
Kesimpulan yang dapat diambil dari surah Yunus, 10: 101 adalah:
1.      Suruhan Allah SAWT agar manusia mengadakan pengkajian, penelitian dan pengamatan terhadap bumi, langit serta sebagal isinya dari segi iptek.
2.      Umat manusia hendaknya mengambil dan ada pula yang berupa berita gembira yajni balasan surga bagi umat yang bertaqwa ( lihat Q.S. Al-Infitar, 82: 13-14)
Apakah umat manusia di abad ke-20 ini sudah memenuhi seruhan Allah SWT untuk mendalami dan mengembangkan iptek? Jawabannya dapat kalian saksikan sendiri melalui teknologi roket dan pengendalian elektronik yang canggih, manusia telah berhasil mencapa permukaan bulan dan kembali ke bumi. Selain itu, manusia juga telah berhasil mengirimkan satelit-satelit ke planet-planet dalam tat surya kita unutk mencapai tujuan-tujuan tertentu. (prof. Achmad Baiquni M,Sc., Ph. D, Al-quran, ilmu pengetahuan dan teknologi, 199 4 hal: 75).

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Kesimpulan dan penjelasan
kesimpulan isi atau kandungan surah Al-Baqarah aya 164 adalah: orang-orang yang menggunakan akalnya untuk memikirkan alam ciptan Tuhan (makhluk) tentu akan memperoleh dalil-dalil sebagai bukti tentang adanya kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.
Dalil-dalil tersebut antara lain:
1.      Allah SWT menciptakan langit yang kita saksikan ketnggiannya, keindahannya, keluasannya dan apa yang ada di langit yakni 100 miliar galaksi diamana seriap datu galaksi terdiri dari 100 miliar bintang
2.      Allah SWT menciptakan bumi, yang kita saksikan dan kita ambil manfaatnya dan segala apa yang ada di bumi seperti: lembah-lembahnya, gunung-gunungnya hutan belantaranya berbagai macam barang tambang yang terkandung dalam bumi dan padang saharanya.
3.      Allah SWT telah menjadikan di bumi ini dengannya pergantuan waktu yakni silih bergantinya malam dengan siang yang manfaatnya telah dirasakan oleh umat manusia( lihat Q.S. Ysin, 36: 40)
Manusia sebagai khalifah di bumi ini, hendaknya senantiasa menigkatkan imu pengetahuannya tentang segla apa yang telah diciptakan Allah untuk diambil manfaatnya demi kesejahteraan dunia dan akhira berfirman:
Artinya”katakanlah, ‘ perhatikanlah apa yang ada di lanigt dan bumi…’Q.S. Yunus, 10: 101)
Rasulullah juga telah bersabda yang artinya: “ pikirknlah olehmu tentang ciptaan Allah (makhluk) da janganlah kamu memikirkan tentang dzat-Nya (zat Allah). Nanti kamu akan binasa.” (Al-Hadits)



[1]Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MODUL PEMBELAJARAN IPS KELAS VIII

  Materi: Lembaga Keuangan untuk Kesejahteraan Rakyat A. Identitas Modul Mata Pelajaran : IPS Kelas/Semester : VIII / Genap Materi Pokok : L...