BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Pendidikan adalah salah satu
penentu keberhasilan seseorang. Bagaimana dia berkata, bersikap dan bermasyarakat
menunjukkan tingkat sosial dan pendidikan pribadi tersebut. Melihat pentingnya
sebuah arti dari pendidikan perlu kiranya untuk kita umat muslim yang bertugas
untuk melestarikan ajaran Islam di muka bumi ini mengerti segala sesuatu
tentang pendidikan dengan tujuan menjaga tegaknya dakwah Islam.
Pendidikan meliputi banyak aspek
dan materi yang dikaji, salah satunya adalah materi Pendidikan Agama Islam
untuk tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas) yang bukan hanya berfungsi sebagai
pelengkap kurikulum, akan tetapi lebih pada pemberian dasar pengetahuan agama
yang benar sebagai tuntunan hidup manusia.
Usia labil yang dimiliki para
remaja usia SMA perlu pengawalan ketat dalam perkembangannya. Tuntutan jaman
yang semakin tinggi terkadang membuat para remaja bingung dan kehilangan
identitas diri, bangsa dan agamanya. Disinilah arti penting materi PAI, dengan
keterbatasan waktu pertemuan dalam memberikan materi guru dipaksa untuk dapat
memberikan materi sekaligus teladan bagi siswa-siswi SMA yang rentan pada
pengaruh negative lingkungan.
B.
Rumusan
masalah
1.
Bagaimana
pendalaman materi Al Qur’an Hadits kelas X?
2.
Bagaimana
pendalaman materi Al Qur’an Hadits kelas XI?
3.
Bagaimana
pendalaman materi Al Qur’an Hadits kelas XII?
BAB II
PEMBAHASAN
KELAS X SEMESTER I
Mata
Pelajaran : Pendidikan Agama
Islam
Aspek : Al-Quran
Materi
Pembelajaran : 1. Kajian tentang Manusia
2. Al-Qur’an tentang keikhlasan dalam beribadah
1. AL-QURAN KAJIAN TENTANG MANUSIA
· Standar
Kompetensi :
Memahami
ayat-ayat Al-Qur’an tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi.
· Kompetensi Dasar :
1.1 Membaca Q.S. al-Baqarah Ayat 30, al-Mu’minun
Ayat 12–14, az-Zariyat Ayat 56, dan an-Nahl Ayat 78.
1.2 Menyebutkan arti Q.S. al-Baqarah Ayat 30,
al-Mu’minun Ayat 12-14, az-Zariyat Ayat 56, dan an-Nahl Ayat 78.
1.3 Menampilkan perilaku sebagai khalifah di bumi
seperti terkandung dalam Q.S. al-Baqarah Ayat 30, al-Mu’minun Ayat 12-14, az-Z
ariyat Ayat 56, dan an-Nahl Ayat 78.
A. Surat Al-Baqarah Ayat 30
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami
Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
1) Kandungan Surat Al-Baqarah ayat 30
Ketika Allah swt memberikan kepada para malaikat bahwa
dia akan menjadikan Adam as sebagai khalifah di muka bumi maka para malaikat
itu bertanya, mengapa Adam as yang akan diangkat di muka bumi? Padahal Adam as
keturunannya itu akan berbuat kerusakan dan berbuat pertumpahan darah di muka
bumi. Para malaikat menganggap diri mereka lebih pantas untuk memangku jabatan
tersebut, sebab mereka adalah makhluk yang selalu bertasbih memuji dan
mensucikan Allah swt. Selanjutnya, Allah swt tidak membenarkan anggapan para
malaikat itu, dan Dia menjawab bahwa Dia mengetahui semua yang tidak diketahui
malaikat. Semua yang akan dilakukan Allah swt adalah berdasarkan pengetahuan
dan nikmat-Nya Yang Maha Tinggi, walaupun tidak dapat diketahui oleh mereka,
termasuk pengangkatandam as menjadi khalifah di muka bumi.
Yang dimaksud dengan khalifah Adam as di muka bumi
adalah kedudukannya sebagai pengatur atau wakil Allah swt di bumi, yakni untuk
melaksanakan perintah-Nya, memakmurkan bumi, serta memanfaatkan segala apa yang
ada di bumi.
2) Perilaku yang menunjukan Cerminan Surat
Al-Baqarah ayat 30
Khalifah adalah seseorang yang dijadikan pengganti
dari yang lain seseorang yang diberi wewenang untuk bertindak dan berbuat
sesuai dengan ketentuan dari yang member wewenang. Sesudah Rasulullah wafat,
para pengganti beliau sebagai kepala Negara dan pemimpin agama disebut
khalifah. Allah swt menjadikan manusia dibekali dengan potensi rohani dan akal.
Dengan potensinya itulah manusia mempunyai kebebasan berinisiatif, mampu
memahami, mencerna, serta mengolah gagasan dan ilmu yang merupakan
keistimewaannya disbanding dengan makhluk yang lain.
Menurut Syeikh Muhammad Abduh, meski manusia itu
mempunyai kelemahan dan keterbatasan, namun Allah swt memberikan keunggulan
potensi rohani dan akal yang mampu menundukan seluruh kekuatan alam yang ada.
Dengan akalnya, gagasan, kreativitas dan ilmu, maka karya manusia menjadi tidak
terbatas. Sebagai contoh, ditemukannya sumber air tawar di kedalaman laut oleh
Mr. Jacques Yues Costeau, seorang penyelam ulung dari Perancis. Dalam air tawar
yang menyejukkan dan menyegarkan itu tidak tercampur oleh air laut yang asin
lagi pahit itu, yang seakan-akan antara air tawar dan air laut itu ada dinding
pemisah atau membrane yang tak dapat ditembus oleh pandangan mata.
Itulah wewenang Allah swt. Manusia sebagai penemu atau
penggaliyang dibekali dengan potensi harus tunduk kepada yang member wewenang.
Oleh karena itu, Allah swt mengajarkan konsep-konsep kebenaran kepada manusia
dalam penciptaan-Nya, sebagaimana kejadian di atas. Firman Allah swt dalam
Al-Quran surat Ar-Rahman ayat 19-20 dan surat Al-Furqan ayat 53 menggambarkan
kebenaran tersebut yang isinya senada, “Dan Dialah yang membiarkan dua
lautan mengalir (berdampinghan) yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi
pahit, dan Dia jadikan antarkeduanya dindingdan batas yang menghalangi”
Meski demikian, tugas khalifah tidak hanya bertumpu
pada hal yang bersifat intelektual belaka, tetapi juga moral. Kekuasaan manusia
di muka bumi tidaklah mutlak ia dibatasi oleh hukum-hukum Allah swt yang akan
dipertanggungjawabkan kelak dihadapan-Nya.
Syarat menjadi
Pemimpin
Para ulama
menyebutkan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin atau
khalifah, seperti berikut ini :
1)
Berpengetahuan,
yang memungkinkan untuk bertindak sebagai hakim terhadap rakyatnya dengan
cara yang adil.
2)
Tidak
memiliki cacat jasmani.
3)
Bertanggung
jawab, teguh, kuat untuk menjalankan pemerintahan, memajukan Negara dan agama
serta mampu membela keduanya dari segala ancaman musuh.
4)
Kewajiban
Pemimpin (khalifah)
5)
Membela
negara dan agama, serta menjalankan syariat agama dengan baik dan benar.
6)
Menjaga
keamanan dan ketentraman umum agar kehidupan segenap rakyatnya terjamin.
7)
Bermusyawarah
dengan wakil-wakil rakyat dalam setiap urusannya, terutama hal-hal yang
mengenai urusan kenegaraan.
8)
Mengatur
perekonomian Negara menurut syariat yang ditentukan seperti mengatur
perdagangan, pertanian, perindustrian, dan sebagainya.
9)
Mengangkat
para pembantu khalifah (mentri) sesuai dengan keahliannya masing-masing
Surat Al-Mu’minuun ayat 12-14
“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari
suatu saripati (berasal) dari tanah. kemudian Kami jadikan saripati itu air
mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). kemudian air mani itu
Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik”.
Kandungan Surat
Al-Mukminun ayat 12-14
Pada surat Al-Mukminin ayat 12-14, Allah swt
menerangkan penciptaan perkembangan kejadian manusia, agar manusia menyadari
betapa besar nikmat dan karunia Allah yang telah dilimpahkan kepada manusia
sejak dahulu kala hingga sekarang. Mensyukuri nikmat lijaad dan
nikmat imaad, yaitu nikmat yang asal tidak ada dan nikmat
kelangsungan hidupnya hingga sekarang dan dimasa yang akan datang.
Seseungguhnya Allah telah menciptakan manusia
dari suatu saripati tanah. Segolongan ahli tafsir menyatakan bahwa yang
dimaksud manusia ialah keturunan Adam yang berasal dari air mani. Apabila
diadakan penelitian dengan saksama maka air mani itu berasal dari tanah setelah
melalui beberapa proses perkembangan. Makanan yang merupakan hasil bumi, yang
dimakan oleh manusia, dalam alat pencernaannya berubah menjadi cairan yang
bercampur dengan darah yang menyalurkan zat-zat makanan dan vitamin yang
dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Allah swt menempatkan saripati air mani itu dalam
tulang rusuk sang suami. Dalam hubungan suami istri (persetubuhan) air mani itu
ditumpahkan kedalam rahim istrinya, suatu tempat penyimpanan yang kokoh bagi
janin sampai saat kelahirannya.
Allah swt mengembangkan air mani itu dalam beberapa
minggu hingga menjadi darah, menjadikan segumpal daging, dan segumpal daging
itu ada bagian dalamnya yang dijadikan tulang belulang. Kemudian, tulang itu
dibungkus daging, laksana pemakaian penutup tubuh. Berikutnya, Allah menjadikan
makhluk yang (berbentuk) lain, setelah ditiupkan Roh kedalamnya, sehingga
menjadi manusia yang sempurna.
Proses perkembangan kejadian manusia di dalam rahim
dapat dijelaskan dengan urutan sebagai berikut:
Dari saripati tanah Allah menjadikan nuthfah (sperma)
yang bertemu dengan sel telur dalam rahim wanita.
a.
Nuthfah bertemu dengan sel telur, Allah jadikan alaqoh, yang
berbentuk segumpal darah.
b.
selama 40
hari, alaqoh ini akan berubah menjadi mudhqoh yang
berbentuk segumpal daging.
c.
dari mudhqoh dalam
waktu 40 hari, Allah jadikan izham yang berupa tulang
belulang.
d.
dari tulang
rangka, selama 40 hari akan dibalut dengan daging.
e.
selanjutnya
dalam waktu 120 hari Allah menjadikan makhluk lain dalam bentuk manusia. Dalam
waktu 120 hari inilah, Allah meniupkan roh ke dalam janin manusia tersebut dan
Allah menentukan tiga perkara yaitu nasib, jodoh, dan umur.
2. AL-QURAN TENTANG KEIKHLASAN BERIBADAH
· Standar Kompetensi :
2. Memahami
ayat-ayat Al-Qur’an tentang keikhlasan dalam beribadah
· Kompetensi Dasar :
2.1 Membaca
Q.S. al-An‘am Ayat 162–163 dan al-Bayyinah Ayat 5
2.2
Menyebutkan arti Q.S al-An‘am Ayat 162-163 dan al-Bayyinah Ayat 5
2.3
Menampilkan perilaku ikhlas dalam beribadah seperti terkandungdalam Q.S.
al-An‘am Ayat 162-163 dan al-Bayyinah Ayat 5
A. Surat al-An‘am Ayat 162–163
Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku,
hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. tiada sekutu
bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang
yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".
1. Kandungan Surat Al An’am ayat 162-163
Pada ayat ini Nabi Muhammad saw diperintahkan supaya
mengatakan bahwa sesungguhnya sembahyang, ibadah, serta semua pekerjaan yang
dilakukannya, hidup dan matinya adalah semata-semata untuk Tuhan semesta alam
yang tiada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadanya, dan dia adalah
orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah swt dalam mengikuti dan
mematuhi semua perintah dan larangan-Nya. Dua ayat ini mengandung ajaran yang
diajarkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw yang harus disampaikan kepada
umatnya, bagaimana seharusnya cara hidup seorang muslim di dunia yang fana ini.
Semua ibadah shalat dan ibadah yang lainnya harus dilaksanakan dengan sepenuh
hati karena Allah swt, ikhlas dalam semua pekerjaan, tanpa adanya suatu pamrih.
Seorang muslim harus percaya kepada kodrat dan kehendak Tuhan. Tuhanlah yang
menentukan hidup dan matinya seseorang.
Ayat ini selalu dibaca dalam salat, yaitu sesudah
takbiratul ihram sebagai doa iftitah. Pada surat Al An’am 162-163 tersebut,
Allah swt menerangkan tentang pentingnya ikhlas dalam menjalankan suatu amal
perbuatan. Ikhlas merupakan kunci utama dalam mengerjakan segala amal ibadah.
Amal ibadah yang tidak didasari dengan niat yang ikhlas, maka amal ibadah itu
tidak akan diterima di sisi Allah swt.
2. Cerminan Isi Surat Al-An’am ayat 162-163
Ada sebuah kisah tentang perkara keikhlasan dalam
beribadah. Di suatu tempat terdapat seorang Bani Israil yang rajin beribadah.
Kemudian datanglah orang-orang kepadanya. Mereka berkata, “Di kota ini ada sebagian
kelompok orang yang menyembah kepada pohon”. Mendengar berita ini, orang alim
tadi marah. Kemudian dia pergi hendak menebang pohon tersebut, tetapi ditengah
jalan iblis menghalang-halangi niatnya, dengan menjelma sebagai orang tua.
Iblis itu berusaha sekuat tenaga untuk merayunya dengan iming-iming bahwa orang
tersebut setiap harinya akan diberi uang dua dinar. Ternyata apa yang dikatakan
iblis itu benar, setiap hari didapatinya dua dinar di rumahnya.
Namun, kejadian itu berlangsung beberapa saat saja.
Pada hari keempat dan seterusnya tidak didapati lagi
uang dinar tersebut. Kemudian, orang itu mengambil kapak hendak , menebang
pohon tersebut. Namun, iblis menyambutnya dan mengatakan kepada orang alim
tadi,“bahwa engkau tidak akan mampu menebang pohon itu, jika engkau tetap
menebang pohon itu maka aku akan membunuhmu”. Ternyata orang alim itu tidak
berdaya menebang pohon tersebut, lantaran niatnya yang sudah tidak didasari
dengan keikhlasan, melainkan didasari oleh pamrih dinar (duniawi).
KELAS X SEMESTER II
Mata
Pelajaran : Pendidikan Agama
Islam
Aspek : Al-Quran
Materi
Pembelajaran : Kajian tentang Demokrasi
AL-QURAN KAJIAN TENTANG DEMOKRASI
· Standar Kompetensi :
Memahami
ayat-ayat Al-Qur’an tentang demokrasi.
· Kompetensi Dasar :
7.1 Membaca
Q.S. Ali‘Imran Ayat159 dan asy-Syura Ayat 38.
7.2 Menyebutkan
arti Q.S. Ali‘Imran Ayat159 dan asy-Syura Ayat 38.
7.3 Menampilkan perilaku hidup demokratis seperti
terkandung dalam Q.S. Ali‘Imran Ayat159 dan asy-Syura Ayat 38.
A. Surat Ali Imran Ayat 159
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku
lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah
mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam
urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal
kepada-Nya”.[1]
1. Menyimpulkan Kandungan Surat Ali Imran
ayat 159
Ayat-ayat tersebut di atas diturunkan berkaitan
dengan musyawarah. Musyawarah merupakan suatu kebiasaan Nabi Muhammad saw.
Beliau selalu bermusyawarah dengan para sahabatnya, dalam menentukan strategi
perang.
Menjelang perang uhud, Nabi Muhammad saw bermusyawarah
dengan sahabatnya, mereka dimintai pendapat mengenai cara menghadapi musuh.
Ketika itu musuh sedang menuju kota Madinah untuk menggempur kaum muslimin.
Namun, Nabi Muhammad saw sendiri sebenarnya cenderung untuk tetap bertahan di
dalam kota. Akhirnya, Nabi Muhammad saw mengikuti pendapat mayoritas sahabat.
Ternyata strategi itu menyebabkan 70 sahabat gugur. Kekalahan dalam perang ini
disebabkan ada beberapa sahabat yang melakukan kesalahan. Meski demikian, Nabi
Muhammad saw tidak menyesal, tidak marah, dan tetap bersikap lemah lembut
terhadap mereka, dan memperlakukan mereka dengan baik. Ini semua dilakukan oleh
Nabi Muhammad saw, karena rahmat Allah swt yang ditunkan ke dalam hatinya. Nabi
Muhammad saw dibekali dengan akhlak-akhlak yang luhur, sehingga dengan adanya
musibah kekelahan perang yang dialaminya, Nabi Muhammad saw merasa sangat mudah
mengatasinya dan ringan dalam merasakannya.
Sudah seharusnya kaum muslimin menempuh jalan
musyawarah apabila menghadapi persoalan dimasyarakat. Selagi mereka mau
berperang pada sistem musyawarah, insya Allah akan selamat dan membawa
kemaslahatan umat. Oleh sebab itu, Allah swt memerintahkan kepada nabi-Nya agar
memantapkan peraturan itu dan mempraktikannya dengan cara yang baik.
Dalam bermusyarah kadang terjadi saling pendapat,
apalagi jika dilakukan dengan dilibatkan orang banyak, pastilah hal itu
akan terjadi. Untuk itu, yang perlu diperhatikan adalah bersikap tenang dan
hati-hati. Perhatikan setiap pendapat, satukan pendapat yang satu dengan yang
lain, kemudian ambil pendapat yang banyak memberi manfaat dan faedah bagi
kepentingan umum.
Pada zaman Nabi Muhammad saw, beliau selalu
mengajarkan kepada kaum muslimin untuk selalu bermusyawarah dengan para
sahabatnya dalam menghadapi masalah-masalah penting. Hal ini beliau lakukan
karena Allah swt telah menurunkan wahyu tentang musyawarah. Oleh karena itu,
B. Surat Asy-Syura Ayat 38
“dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi)
seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan
musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami
berikan kepada mereka”.
KELAS XI SEMESTER I
Mata
Pelajaran : Pendidikan Agama
Islam
Aspek : Al-Quran
Materi
Pembelajaran : 1. Perintah untuk
Berlomba dan Mencari Kebaikan
2. Menyantuni Kaum Duafa dan Ajaran kebaikan
1. Perintah untuk Berlomba dan Mencari Kebaikan
· Standar Kompetensi :
Memahami
ayat-ayat Al-Qur’an tentang kompetisi dalam kebaikan
· Kompetensi Dasar :
1.1 Membaca
Q.S. al-Baqarah Ayat 148 dan F-aatir Ayat 32.
1.2 Menjelaskan arti Q.S. al-Baqarah Ayat 148 dan
F-aatir Ayat 32.
1.3 Menampilkan perilaku berkompetisi dalam
kebaikan seperti terkandung dalam Q.S. al-Baqarah Ayat 148 dan F-aatir Ayat 32.
A. Surat al-Baqarah Ayat 148
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang
ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di
mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari
kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Isi Kandungan Surat al-Baqarah Ayat 148
Perintah Allah SWT. “Maka berlomba-lombalah kamu dalam
kebaikan” adalah mencakup pemahaman, bahwa berlomba-lomba dalam berbuat
kebaikan merupakan suatu ajakan kepada orang lain untuk senantiasa melakukan
dan menempuh jalan yang di ridhai Allah SWT. Dalam hal ini dapat disebut
sebagai kegiatan dakwah.
Bagi umat islam di dalam berdakwah telah memiliki arah
yang jelas dalam mencapai misi, yaitu mengupayakan kemaslahatan ummat. Apabila
kemaslahatan tidak dapat dilaksanakan secara individu, maka hendaknya
diusahakanoleh orang-orang yangmampu profesional dan proporsional pada bidang
dan keahliannya.
B. Surat Faatir Ayat 32
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang
yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang
Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan
diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin
Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar. Yang dimaksud dengan
orang yang Menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak
kesalahannya daripada kebaikannya, dan pertengahan ialah orang-orang yang
kebaikannya berbanding dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan
orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang
kebaikannya Amat banyak dan Amat jarang berbuat kesalahan”.
Kandungan Al-Quran Surat Fatir Ayat 32
Al-Quran Surat Fatir menjelaskan bahwa Allah SWT.
telah menurunkan wahyu AlQuran kepada Rasulullah SAW. Dan kemudian Ilmu dan
Pengetahuan dalam Al-Quran itu diwariskan kepada hamba-hamba pilihan Allah SWT.
yaitu Muhammad SAW. (umat islam).
Beberapa tingkatan orang beriman di dalam mengamalkan
Al-Quran, yaitu:
a.
Zalimun
Linafsihi, artinya ialah orang-orang yang zalim/aniaya
terhadap dirinya sendiri. Yaitu mereka yang yang tidak mengerjakan perbuatan
wajib dalam agama, tetapi mereka juga tidak meninggalkan perbuatan yang
dilarang atau diharamkan oleh Allah SWT.
b.
Al-Muqtasid artinya sederhana, yaitu orang-orang melaksanakan perbuatan yang
diwajibkan oleh agama, tetapi mereka masih suka melakukan perbuatan maksiat.
c.
Sabiqun
Bil khairat, artinya mereka yang unggul dalam
berbuat kebaikan, yaitu orang-orang yang selalu mengerjakan perbuata-perbuatan
wajib dan sunnah, serta mereka mampu meninggalkan perbuatan yang dilarang oleh
Allah SWT.
Ciri-ciri orang yang termasuk sebagai pewaris
Al-Quran, antara lain:
a.
Mendengarkan
Al-Quran ketika dibaca.
b.
Senang
membaca Al-Quran.
c.
Mentadabburi
dan mengamalkan Al-Quran.
d.
Mengajarkan
dan menyebarluaskan Al-Quran, mulai dari keluarga terdekat dan orang lain.
2. Menyantuni Kaum Duafa dan Ajaran kebaikan
· Standar Kompetensi :
2. Memahami
ayat-ayat Al-Qur’an tentang perintah menyantuni kaum lemah
· Kompetensi Dasar :
2.1 Membaca
Q.S. al-Isra’ Ayat 26-27 dan al-Baqarah Ayat 177
2.2 Menjelaskan
arti Q.S. al-Isra’ Ayat 26-27 dan al-Baqarah Ayat 177
2.3 Menampilkan perilaku menyantuni kaum lemah seperti
terkandungdalam Q.S. al-Isra’ Ayat 26-27 dan al-Baqarah Ayat 177
A. Surat al-Isra’ Ayat 26-27
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat
akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah
kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya
pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah
sangat ingkar kepada Tuhannya”.
Kandungan Al-Quran Surat al-Isra’ Ayat 26-27
1.
Dalam setiap
harta yang dimiliki oleh seseorang sebenarnya ada hak orang lain, sebab harta
yang dimilkinya merupakan hasil dari pada bantuan orang lain.
2.
Mengenai distribusi
penberian hak, hendaknya didahulukan kepada kaum kerabat dekat, kemudian baru
kepada orang-orang miskinserta orang-orang yang membutuhkan, yaitu para musafir
dan ibnu sabil.
3.
Memberi
sesuatu kepada orang lain adalah merupakan perbuatan terpuji dan sangat mulia
karena dapat meringankan beban dan penderitaan orang lain.
4.
Suka
menghambur-hamburkan harta benda sangat dicela oleh Allah SWT., karena hal
demikian menyebabkan manusia diperbudak oleh keinginan hawasafsu belaka yang
meeupakan tipu daya setan yang menyesatkan dan setan adalah musuh manusia yang
nyata.
B. Surat al-Baqarah Ayat 177
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat
itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman
kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan
memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang
meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan
zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan
orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang
yang bertakwa”.
Kandungan Al-Quran Surat al-Baqarah Ayat 177
Kebajikan di dalam QS. Al-Baqarah yaitu bagi
orang-orang yang meyakini terhadap adanya allah hari kiamat dan kehidupan
akhirat, terhadap para malaikatnya, kitab-kitab, nabi dan rasulnya, serta mau
memberikan harta yang dicintainya kepada yang memnbutuhkannya, yaitu bagi
mereka yang ekonominya tidak mampu.
Diatara perbuatan baik dan terpuji tersebut ialah:
1.
Memberikan
harta yang dicintai kepada kerabat dekat yang membutuhkannya, artinya keluarga
dekat yang kurang mampu ekonominya.
2.
Memberikan bantuan kepada anak-anak yatim, karenamereka membutuhkan
pertolongan dan perhatian, perlindungan dan lainnya termasuk pendidikan dan
kasih sayang.
3.
Memberikan
sebagian hata kepada musafir yang kehabisan bekal untuk melanjutkan perjalanannya
agar mereka tidak terlantar di perjalanannya.
4.
Memberikan
harta kepada para peminta serta untuk memerdekan Budak (hamba sahaya)
5.
Melaksanakan
ibadah sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah SWT., dengan mengharapkan
ridha Allah SWT.
6.
Memberikan
Zakat kepada yang berhak menerimanya.
7.
Menepati
janji ketikan\berjanji, karena janji yang tidak ditepati merupakan htang yang
harus dibayar, jika tidak dibayar hingga ia meninggal, maka akan tetap ditagih/
diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Nilai amal shaleh sangat erta kaitannya dengan iman.
Amal yang tidak didasari iman karena Allah maka tidak akan dapat menebus dosa
walau sebesar apapun, sehingga perbuatn baik tidak mendapat imbalan pahala dari
Allah SWT., hanyalah sia-sia belaka amal yang dilakukannya.
Diantara orang-orang yang amal kebaikannya hanya akan
sia-sia belaka dan tidak mendapatkan pahala di sisi Allah ialah :
1.
Orang yang
meninggal dunia dalam keadaan kafir.
2.
Orang-orang
yang menyekutukan Allah SWT (musyrik)
3.
Bagi orang
yang kafir dan musyrik selain amal kebaikannya sia-sia, di akhirat kelak akan
diberi adzab oleh Allah SWT., dengan adzab yang pedih.
KELAS XI SEMESTER II
Mata
Pelajaran : Pendidikan Agama
Islam
Aspek : Al-Quran
Materi
Pembelajaran : Menjaga Kelestarian
Lingkungan Hidup
Menjaga Kelestarian Lingkungan Hidup
· Standar Kompetensi :
Memahami
ayat-ayat Al-Qur’an tentang perintah menjaga kelestarianlingkungan hidup
· Kompetensi Dasar :
7.1 Membaca
Q.S ar-Rum Ayat 41-42, al-A‘raf Ayat 56-58, dan Sad Ayat 27
7.2 Menyebutkan arti Q.S. ar-Ruum Ayat 41-42, al-A‘raf
Ayat 56-58, dan Saad Ayat27
7.3 Menampilkan perilaku menjaga lingkungan hidup
seperti terkandung dalam Q.S. ar-Rum Ayat 41-42, al-A‘raf Ayat 56-58, dan SAad
Ayat 27
A. Surat ar-Rum Ayat 41-42
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka
sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang
benar).
Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi
dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan
dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)."
Kandungan Surat Ar-Rum ayat 41-42
Menjelaskan bahwa kerusakan yang nampak di muka bumi
ini diakibatka oleh ulah manusia sendiri dan akan dirasakan akibatnya oleh
manusia sendiri, baik kerusakan berupa material dan spiritual.Hak ini sebagai
cobaan bagi mereka agar sadar dan kembali menuju jalan Allah SWT.
Kerusakan yang dilakukan oleh manusia di muka bumi
ini,mulai dimensi tauhid dan lingkungan inilah yang menyebabkan nilai-nilai
keberkahan yang di anugrahkan Allah swt. Kepada manusia, oleh karena itu pada
ayat selanjutnya Allah swt. Mengingatkan kepada kita tentang realita kehidupan
masyarakat di masa lalu diman setelah mereka berbuat kerusakan lalu mereka
berbuat musyrik kepada Allah.
B. Surat al-A‘raf Ayat 56-58
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,
sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut
(tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah
Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita
gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah
membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami
turunkan hujan di daerah itu, Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu
pelbagai macam buah-buahan. seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang
telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.
Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur
dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya
tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi
orang-orang yang bersyukur”.
Kandungan Surat Al-A’raf ayat 56-58
1.
Allah swt
melarang manusia membuat kerusakan hutan di muka bumi, kerusakan yang dilakukan
oleh seorang manusia setelah ia menjaganya merupakan hal yang dilarang. Oleh
karena itu jika seseorang melakukan hal kerusakan maka Allah swt memerintahkan
untuk diperintahkan dengan cara yang baik. Allah swt juga memerintahkan untuk
beribadah, berdo’a dan tunduk kepada perintahnya dan menjauhi larangannya.
2.
Ketika Allah
swt mengemukakan bahwa didrinya yang menciptakan langit dan bumi dan yang
mengaturnya, dia yang maha berkehendak maha kuasa dan maha pemberi rizki.
Keberadaan hujan yang muncul dari awan yang dibawa melalui angin lalu turun
hujan ke daerah yang tandus yang menumbuhkan segala macam tanaman, merupakan
bukti kekuasan Allah.
3.
Selanjutnya
untuk membedakan orang mukmin dan orang kafir, Allah swt mengumpamakannya
derngan perbandingan sebidang tanah yang baik dan tanah yang buruk. Perumpamaan
hidayah Allah pada hambanya (sebagaimana rasul diutus untuk menyampaikannya)
adalah seperti hujan yang lebat dimana sebagian airnya menimpa sebidang tanah
yang subur dan dapat menyimpan air, lalu dari tanah itu tumbuh banyak tanaman,
yang dapat menampung air yang dapat dimanfaatkan manusia untuk minum dan
bercocok tanam. Sementara sebagian air yang lainnya menimpa sebuah lubang
yang tidak dapat menahan air dan menumbuhkan tanaman. Hal ini bagaikan
orang pandai yang mengerti permasalahan keagamaan mengkajinya lalu
mengamalkannya, sementara disisi lain terdapat seseorang yang tidak dapat
melakukan hal-hal yang di atas bahkan tidak mau mengajarkan ajaran agama
tersebut
C. Surat Sad Ayat 27
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa
yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan
orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan
masuk neraka”.
Kandungan Surat Shad ayat 27
1.
Allah swt
tidak menciptakan satu makhluknya dengan sis-sia. Ia menciptakan makhluk
tersebut agar mereka beribadah dan mengesakannya. Ketika hari akhirat tiba,
Allah akan mengumpulkannya di suatu tempat yang disebut padang mahsyar dimana
orang-orang yang taat akan mendapatkan pahala dan masuk surge sementara orang
kafir akan disiksa didalam api neraka.
2.
Kemudian
karena sifat adil dan bijaksananya Allah swt menjelaskan perbedaan antar orang
mukmin dan orang kafir, menurutnya antara orang kafir dan orang mukmin tidak
sama untuk membedakannya diperlukan hari akhirat sebagai bukti bahwa orang yang
taat akan mendapat pahala dan orang yang berbuat maksiat akan mendapat siksa.
KELAS XII SEMESTER I
Mata
Pelajaran : Pendidikan Agama
Islam
Aspek : Al-Quran
Materi
Pembelajaran :
TIDAK ADA TOLERANSI DALAM KEIMANAN DAN PERIBADAHAN
· Standar Kompetensi :
Memahami
ayat-ayat Al-Qur’an tentang anjuran bertoleransi
· Kompetensi Dasar :
1.1 Membaca Q.S. al-Kafirun Ayat 1-6, Yunus Ayat
40-41, dan al-Kahf Ayat 29
1.2 Menjelaskan arti Q.S. al-Kafir un Ayat 1-6,
Yunus Ayat 40-41, dan al-Kahf Ayat 29
1.3 Menampilkan Perilaku bertoleransi seperti
terkandung dalam Q.S. al-Kafirun Ayat 1-6, Yunus Ayat 40-41, dan al-Kahf Ayat
29
A. Surat Al-Kafirun ayat 1-6
1.
Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. aku tidak
akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. dan kamu
bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4. dan aku
tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. dan kamu
tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6. untukmu
agamamu, dan untukkulah, agamaku."
Kesimpulan Ayat Di atas
1.
Penegasan
bahwa Tuhan yang disembah (ma’bud) oleh nabi Muhammad SAW dan umat islam
berbeda dengan ma’bud orang-orang kafir (kaum musyirikin yang mengingkari
keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW). Demikian juga cara peribadahan
Nabi Muhammad dan umat Islam yang hanya berdasarkan keikhlasan dan ketulusaan
hari dan bersih dari sikap prilaku terhadap Allah SWT, berbeda dengan cara
peribadahan orang-orang kafir (musyirikin )
2.
Penolakan
dari Nabi Muhammad SAW dan umat Islam terhadap kaum kafir untuk mencampuradukan
keimanan dan peribadahan yang diajarkan Islam dengan keiamanan dan peribadahan
yang diajarakan agama kaum kafir yang mengandung kemusyrikan
3.
Dalam
menyingkapi perbedaan keimanan dan peribadahan itu, umat Islam dan kaum kafir
hendaknya bebas beragama dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya dan tidak
boleh saling mengganggu. Islam melarang memaksa orang lan untuk menganut
sesuatu agama, sesuai dengan surat al-baqarah ayat 256)
Penjelasan
Surat Al-kafirun ini termasuk surah Makiyyah atau yang
diturunkan di Mekah, sebelum Nabi SAW berhijrah ke Madinah. Al-Kafirun artinya
orang-orang kafir. Surah ini dinamakan surah Al-Kafirun, karena tema pokonya
menjelaskan sikap Nabi SAW dan uma Islam terhadap orang-orang kafir,
sebagaimana asbabul nuzulnya di bawa ini:
Ada beberapa tokoh kaum kafir (kaum musyrikin) di
Mekah seperti Al-Walid bin Al-Mugirah, Aswad bn Abdul Muttalib dan Umayyah bin
Khalaf, datang kepada Nabi Muhammad SAW menawarkan kompromi yang menyangkut
pelaksanaan peribadahan. Mereka mengusulkan, agar Nabi SAW dan umat Islam
mengikuti kepercayaan mereka dan mereka pun akan mengikuti agama Islam. Mereka
berkata , “Wahai Muhammad, bagaimana jika kami menyambah Tuhanmu selama setahun
dan kamu juga menyembah uhan kami selama setahun. Jiak agamamu benar, benar,
kamu juga tentu memperoleh keuntungan,” mendengar usul kaum kafir itu
Rasulullah SAW dengan tegas manjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak
tergolong orang-orang yang bersikap dan berprilaku syirik atau menyetukukan
Allah.”
Untuk mempertegas penolakan Rasulullah SAW tersebut,
kemudian Allah SWT menurunkan Surah Al-Kafirun. Setelah Rasulullah SAW menerima
Suarah Al-Kafirun ini, lalu beliau mendatangi tokoh-tokoh kaum kafir
(musyirikin) Mekah, yang waktu itu sedang berkumpul di Masjidil Haram.
Dihadapan mereka Rasululllah membacakan Surah Al-Kafirun: 1-6 dengan mantap dan
lantang, sehingga mereka menyadari bahwa usul mereka untuk berkompromi dalam
keimanan dan ibadah agama, ditolak oleh Rasulullah SAW dan umat Islam.
B. Surat Yunus ayat 40-41
40. di antara mereka ada orang-orang yang beriman
kepada Al Quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman
kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.
41. jika mereka mendustakan kamu, Maka Katakanlah:
"Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. kamu berlepas diri terhadap
apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu
kerjakan".
Kesimpulan
Kesimpulan
isi atau kandungan Surah Yunus: 40-41 adalah:
1.
umat manusia
yang hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah SWT yang
terakhir, terbagi menjadi dua golongan : ada golongan umat manusia yang beriman
terhadap kebenaran kerasulannya dan kitab suci yang disampaikan (Al-Quran) dan
ada pula golongan yang mendustakan kebenaran kerasulannya Nabi Muhammad SAW dan
tidak beriman kepada Al-Quran.
2.
Allah SWT
Maha Mengetahui sikap dan perilaku orang-orang beriman yang selama hidupnya di
dunia senantiaa bertakwa kepada-Nya . Allah SWT pun maha mengetahui terhadap
sikap dan prilaku orang-orang yang tidak beriman(kaum kafir) yang senatiasa
berbuat durhaka kepada Allah SWT dan banyak berbuat kerusakan di muka bumi.
Kepada
orang-orang beriman dan betul-betul bertakwa tentu Allah SWT akan memberikan
haknya yaitu surga. Kepada orang-orang yang tidak beriman dan mendustkan
kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW juga banyak berbuat kejahatan di muka
bumi, tentu Allah SWt akan memberikan hakny a pula, yakni di campakkan kedalam
neraka (lihat Q.S. Al-Baqarah, 2: 24-25)
Dalam menghadapi orang-orang yang tidak beriamn kepada
Al-Quran dan mendustakan kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW, orang-orang
beriman (umat Islam) harus berpendirian teg uh dan yakni bahwa Nabi Muhammad SW
berul-betul Rasul Allah SWT yang terakhir dan Al-Quran merupakan kitab suci
yang berisi firman-firman Allah SWT yang di wahyukan kepada nabi Muhammad SAW,
yang harus dijadikan pedoman hidup umat manusia sampai akhir jamna. Selain itu,
umat Islam harus menyadari behawa setiap amal perbuatan manusia baik ataupun
buruk, akibatnya akan menimpa orang-orang yang melakukannya. Seseorang tidak
akan memikul dosa orang lain, tetapi masing-masing orang akan memikul dosanya
sendiri-sendiri (lihat Q.S. Saba, 34: 25 dan Al-Isra, 17: 15)
C. Surat Al-Kahfi ayat 29
29. dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari
Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan
Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah
sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.
dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air
seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling
buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
Kesimpulan
Kesimpulan
isi atau kandungan Suarah Al-Kahfi 29 itu adalah:
1.
Kebenaran itu
datangnya dari Allah SWT, sadangakan salah datangnya dari selain Allah SWT
2.
Manusia baik
segala individu maupun kelompok, memiliki kebebasan penuh untuk menentukan
pilihan terhadap agama yang akan dianutnya.
3.
Manusia yang
memilih agama yang salah yakni yang tidak berasal dari Allah SWT dan mengandung
unsur menyekutukan Allah dianggap zalim sedangkan balasan bagi orang zalim
adalah neraka.
Penjelasan
Kebebasan memili agama selain tercantum dalm Surah
Al-Kahfi: 29, juga terdapat dalam Surah Al-Baqarah, 2: 256 dan Surah Yunus, 10:
99 ( coba kamu cari dan pelajari kedua ayat Al-Quran tersebut).
Kebebasan memilih agama merupakan Hak Asasi Manusia.
Hal ini tecantum dalam piagam PBB tentang Hak-hak Asasi Manusia yang biasa
disebut “The Universal Declaration of Human Rights” pasal 18, juga tercantum
dalam Deklarasi Kairo tentang Hak-hak Asasi Manusia pasal 10.
Selain itu dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 tentang
Hak-hak Asasi Manusia, Bab III pasal 22.
Ajaran Islam yang melarang penganutnya memaksa orang
lain masuk isla, hendaknya dapat memberikan dorongan kepada umat islam untuk
bersikap toleran terhadap umat-umat non-Islam, sehingga kerukunan hidup antar
umat beragana dapat terwujud.
Berbahagialah umat manusia yang beriman dan
mengamalkannya ajaran agama Islam karena Insya Allah mereka akan memperoleh
rida dan rahmat Allah serta kebaikab=kebakan yang banyak di dunia dan akhirat
(lihat Q,S. Al-Baqarah, 2:25). Tetapi sungguh merugi dan celaka orang-orang
zalim, yakni mendurhakai Allah dan rasul-Nya karena mereka akan mendapat murka
Allah SWT dan mengalami kerugian di dunia dan akhirat (Q.S. Al-Jinn, 72:23)
KELAS XII SEMESTER II
Mata
Pelajaran : Pendidikan Agama
Islam
Aspek : Al-Quran
Materi
Pembelajaran :
Perkembangan IPTEK dalam Al-Quran
· Standar Kompetensi :
Memahami
ayat-ayat Al-Qur’an tentang pengembangan IPTEK
· Kompetensi Dasar :
7.1 Membaca
Q.S. Yunus Ayat 101 dan al-Baqarah Ayat 164
7.2 Menyebutkan
arti Q.S. Yunus Ayat 101 dan al-Baqarah Ayat 164
7.3 Menampilkan perilaku mengembangkan IPTEK seperti
Terkandungdalam Q.S.Yunus Ayat 101 dan al-Baqarah Ayat 164
A. Surat yunus ayat 101
Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit
dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang
memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".
Penjelasan dan keismpulan
al-Quran bukanlah buku ilmu pengetahuan dan teknologi,
tetapi Al-Quran adalah himpunan firman Allah, sebagai pedoman hidup bagi uamt
manusia agar mereka memperoleh kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Meskipun
Al-Quran bukan buku iptek. Hal ini dimaksudkan agar umat manusia mengadakan
pengkajian. Penelitian dan pengamatan tentang iptek untuk kesejahterran umat
manusia.
ayat yang berkaitan dengan iptek selain surah yunus,
10: 101, juga surah Ar-Rahman, 55: 33 yang artinya: “hai golongan jin dan
manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka
lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya selain dengan kekuatan.”sesuai dengan
sabda Rasulullah SAW: “tuntutlah ilmu walau ke negeri China sekalipun”.
Kesimpulan yang dapat diambil dari surah Yunus, 10:
101 adalah:
1.
Suruhan
Allah SAWT agar manusia mengadakan pengkajian, penelitian dan pengamatan
terhadap bumi, langit serta sebagal isinya dari segi iptek.
2.
Umat manusia
hendaknya mengambil dan ada pula yang berupa berita gembira yajni balasan surga
bagi umat yang bertaqwa ( lihat Q.S. Al-Infitar, 82: 13-14)
Apakah umat manusia di abad ke-20 ini sudah memenuhi
seruhan Allah SWT untuk mendalami dan mengembangkan iptek? Jawabannya dapat
kalian saksikan sendiri melalui teknologi roket dan
pengendalian elektronik yang canggih, manusia telah berhasil mencapa permukaan
bulan dan kembali ke bumi. Selain itu, manusia juga telah berhasil mengirimkan
satelit-satelit ke planet-planet dalam tat surya kita unutk mencapai
tujuan-tujuan tertentu. (prof. Achmad Baiquni M,Sc., Ph. D, Al-quran, ilmu
pengetahuan dan teknologi, 199 4 hal: 75).
Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera
yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah
mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan
pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh
(terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
Kesimpulan dan penjelasan
kesimpulan isi atau kandungan surah Al-Baqarah aya 164
adalah: orang-orang yang menggunakan akalnya untuk memikirkan alam ciptan Tuhan
(makhluk) tentu akan memperoleh dalil-dalil sebagai bukti tentang adanya kekuasaan
dan kebesaran Allah SWT.
Dalil-dalil tersebut antara lain:
1.
Allah SWT
menciptakan langit yang kita saksikan ketnggiannya, keindahannya, keluasannya
dan apa yang ada di langit yakni 100 miliar galaksi diamana seriap datu galaksi
terdiri dari 100 miliar bintang
2.
Allah SWT
menciptakan bumi, yang kita saksikan dan kita ambil manfaatnya dan segala apa
yang ada di bumi seperti: lembah-lembahnya, gunung-gunungnya hutan belantaranya
berbagai macam barang tambang yang terkandung dalam bumi dan padang saharanya.
3.
Allah SWT
telah menjadikan di bumi ini dengannya pergantuan waktu yakni silih bergantinya
malam dengan siang yang manfaatnya telah dirasakan oleh umat manusia( lihat
Q.S. Ysin, 36: 40)
Manusia sebagai khalifah di bumi ini, hendaknya
senantiasa menigkatkan imu pengetahuannya tentang segla apa yang telah
diciptakan Allah untuk diambil manfaatnya demi kesejahteraan dunia dan akhira
berfirman:
Artinya”katakanlah, ‘ perhatikanlah apa yang ada di
lanigt dan bumi…’Q.S. Yunus, 10: 101)
Rasulullah juga telah bersabda yang artinya: “
pikirknlah olehmu tentang ciptaan Allah (makhluk) da janganlah kamu memikirkan
tentang dzat-Nya (zat Allah). Nanti kamu akan binasa.” (Al-Hadits)
[1]Maksudnya: urusan peperangan dan
hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan
lain-lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar